Martin Luther adalah seorang yang terkemuka dari orang orang yang
terpanggil untuk memimpin gereja keluar dari kegelapan kepausan kepada
terang iman yang lebih murni. Seorang yang bersemangat, rajin dan
berserah, tidak mengenal rasa takut kecuali takut kepada Allah, yang
mengakui tidak ada dasar iman keagamaan kecuali Alkitab. Luther adalah
tokoh pada zamannya. Melalui dia Allah melakukan pekerjaan pekerjaan
besar untuk pembaharuan gereja dan menerangi dunia.
Seperti pesuruh
pesuruh Injil yang pertama, Luther muncul dari lapisan masyarakat
miskin. Masa kecilnya dihabiskan di rumah sederhana seorang petani
Jerman. Dengan pekerjaan sehari hari sebagai seorang pekerja tambang,
ayahnya dapat menyekolahkannya. Ayahnya berniat agar Luther kelak
menjadi seorang pengacara. Tetapi Allah bermaksud membuat dia menjadi
seorang pembangun di kaabah Nya yang berkembang begitu lambat selama
berabad abad. Kesukaran, penderitaan dan tindakan disiplin adalah
sekolah dimana Yang Mahabijak mempersiapkan Luther bagi suatu misi
penting dalam hidupnya.
Ayah Luther adalah seorang yang berpikiran
kuat dan aktif, dan mempunyai tabiat yang teguh, jujur, tabah dan lurus.
Ia setia kepada keyakinan tugasnya walau apapun akibatnya. Citarasanya
yang sejati menuntunnya tidak percaya kepada sistem biara. Ia sangat
tidak senang pada waktu Luther memasuki biara tanpa persetujuannya.
Selama dua tahun hubungan mereka tidak baik karenanya, dan sesudah
berdamai kembalipun pendirian ayahnya tetap sama.
Orang tua Luther
sangat memperhatikan pendidikan dan pelatihan anak anaknya. Mereka
berusaha mengajarkan pengetahuan akan Allah dan mempraktekkan kebijakan
Kristen. Doa doa ayahnya sering dinaikkan didengar oleh anaknya, agar
anaknya boleh mengingat nama Tuhan, dan pada suatu hari membantu
memajukan kebenaran Nya. Setiap kesempatan untuk memupuk moral dan
intelektual yang diberikan oleh kehidupan mereka yang keras kepada
mereka untuk dinikmati, selalu dikembangkan oleh orangtua ini. Mereka
berusaha dengan sungguh sungguh dan dengan sabar untuk mempersiapkan
anak anak mereka bagi suatu kehidupan yang saleh dan berguna. Dengan
keteguhan dan kekuatan tabiat kadang kadang mereka melatih terlalu
keras. Tetapi Pembaharu itu sendiri, meskipun menyadari bahwa dalam
berbagai hal mereka salah, menemukan dalam disiplinnya lebih banyak
persetujuan daripada hukuman.
Di sekolah, dimana ia belajar pada masa
mudanya, Luther diperlakukan dengan kasar dan bahkan dengan kejam.
Orangtuanya sangat miskin, sehingga pada waktu ia bersekolah di kota
lain, diharuskan mencari makan sendiri dengan menyanyi dari satu rumah
ke rumah yang lain, dan sering ia harus menahan lapar. Pemikiran agama
yang gelap dan penuh ketakhyulan yang merajalela membuat ia ketakutan.
Ia berbaring pada waktu malam dengan hati yang sedih, memandang ke masa
depan yang gelap dengan gemetar, dan dengan ketakutan yang terus menerus
menganggap Allah itu sebagai hakim yang lalim yang tidak menaruh belas
kasihan, seorang tiran jahat, daripada seorang Bapa Surgawi yang baik
hati.
Namun, dibawah begitu banyak dan begitu besar yang membuat ia
tawar hati, Luther terus berusaha maju menuju standar moral yang tinggi
dan keungguluan intelektual yang menarik jiwanya. Ia haus akan
pengetahuan, dan kesungguh sungguhan serta sifat praktis pikirannya
menuntunnya menginginkan yang kuat dan berguna, daripada yang menyolok
dan dangkal.
Pada usia 18 tahun, waktu ia memasuki universitas
Erfurt, keadaannya sedikit lebih baik, dan hari depannya lebih cerah
daripada tahun tahun sebelumnya. Orangtuanya, oleh karena berhemat dan
rajin, telah mampu memberikan bantuan yang diperlukan. Dan pengaruh
teman temannya yang bijaksana telah mengurangi pengaruh suram pendidikan
sebelumnya. Ia mempelajari karya karya pengarang terbaik, dengan rajin
mempelajari pikiran pikiran berbobot, dan membuat kebijaksanaan orang
orang bijak itu menjadi kebijaksanaannya. Bahkan dibawah disiplin kasar
guru gurunya sebelumnya, ia tetap menonjol. Dan dengan pengaruh pengaruh
yang baik pikirannya berkembang dengan pesat. Ingatannya yang tajam,
imaginasinya yang kreatif, daya pertimbangannya yang kuat, dan
ketekunannya yang tak mengenal lelah, segera menempatkannya pada barisan
depan teman temannya. Disiplin intelektual mematangkan pengertiannya,
dan membangkitkan suatu kegiatan pikiran dan suatu ketajaman persepsi
yang mempersiapkan dia bagi perjuangan hidup.
Perasaan takut akan
Allah selalu tiggal dalam hati Luther, yang menyanggupkannya
mempertahankan keteguhan tujuannya, dan merendahkan diri dihadapan
Allah. Ia mempunyai rasa ketergantungan kepada pertolongan ilahi. Dan ia
tidak pernah lupa memulai setiap hari dengan doa, sementara hatinya
terus memohon tuntunan dan dukungan. Sering ia berkata, "Berdoa dengan
baik adalah setengah pelajaran yang lebih baik." D'Aubigne, "History of
the Reformation of the Sixteenth Century," b. 2, ch. 2.
Ketika sedang
memeriksa buku buku di perpustakaan universitas pada suatu hari, Luther
menemukan Alkitab dalam bahasa Latin. Belum pernah ia melihat buku
seperti itu sebelumnya. Ia sama sekali tidak tahu keberadaan buku itu.
Ia telah pernah mendengar bagian bagian dari Injil dan Surat surat
Rasul, yang telah dibacakan kepada orang orang pada waktu kebaktian
umum, dan ia berpikir bahwa itulah seluruh Alkitab itu. Sekarang, untuk
pertama kalinya ia melihat seluruh firman itu. Dengan rasa kagum
bercampur heran ia membalik halaman halaman kudus itu. Dengan denyut
nadi yang lebih cepat dan jantung berdebar debar, ia membaca firman
kehidupan itu untuk dirinya sendiri. Setelah berhenti sejenak ia
berseru, "Oh, seandainya Allah memberikan buku seperti ini menjadi
milikku sendiri!" Idem, b. 2, ch. 2. Malaikat malaikat Surga berada
disampingnya dan sinar sinar terang dari takhta Allah menyatakan
kekayaan kebenaran itu kepada pengertiannya. Sebelumnya ia selalu takut
melanggar kehendak Allah. Tetapi sekarang ia mempunyai kesadaran yang
mendalam mengenai keadaannya sebagai orang berdosa dan bergantung kepada
Allah seperti belum pernah sebelumnya.
Suatu kerinduan yang sungguh
sungguh untuk bebas dari dosa dan untuk memperoleh kedamaian dengan
Allah, akhirnya menuntun dia memasuki sebuah biara, dan menyerahkan
dirinya kepada kehidupan biara. Di sini ia diharuskan melakukan
pekerjaan yang paling rendah, dan meminta minta dari rumah ke rumah.
Pada waktu itu ia berada pada tingkat umur dimana penghormatan dan
penghargaan sangat didambakan. Dan pekerjaan yang cocock untuk seorang
hamba ini sangat melukai perasaan alamiahnya. Tetapi dengan tabah dan
sabar ia tahankan pekerjaan yang merendahkan diri ini, sebab ia percaya
bahwa hal itu diperlukan oleh dosa dosanya.
Setiap saat diwaktu
senggangnya ia gunakan untuk belajar, sehingga mengurangi tidurnya,
bahkan sebagian menghabiskan waktu untuk makan yang tidak mencukupi itu.
Diatas segalanya yang lain, ia bersuka cita mempelajari firman Allah.
Ia menemukan sebuah Alkitab yang dirantai ke dinding biara, dan untuk
ini ia sering pergi ke situ. Sementara keyakinannya mengenai dosa
semakin mendalam, ia mulai mencari pengampunan dan kedamaian atas
usahanya sendiri. Ia menghidupkan suatu kehidupan yang ketat, dengan
berpuasa, berjaga dan berdoa sepanjang malam, dan menyiksa diri untuk
menundukkan keadaannya yang jahat, yang untuk ini kehidupan biara tidak
dapat membebaskannya. Ia tidak menahankan pengorbanan, dengan harapan,
mudah mudahan oleh itu ia memperoleh kesucian hati yang akan
menyanggupkannya berdiri berkenan dihadapan Allah. "Sesungguhnya aku
adalah seorang biarawan yang taat," katanya kemudian, "dan mematuhi
semua peraturan ordeku lebih ketat daripada yang dapat aku katakan.
Jikalau pernah seorang biarawan memperoleh Surga oleh pekerjaannya
sebagai biarawan, aku merasa pasti berhak untuk itu . . . . Jika
pekerjaan itu diteruskan lebih lama lagi, pekerjaan penyiksaan diri itu
akan menewaskan aku." D'Aubigne, b. 2, ch. 3. Sebagai akibat disiplin
yang menyakitkan, ia kehilangan kekuatannya, dan menderita pingsan
kejang kejang, yang tidak pernah sembuh benar dari pengaruhnya. Tetapi
dengan semua usahanya ini jiwanya yang menanggung beban tidak menemukan
kelegaan. Akhirnya ia berada ditepi jurang keputus asaan.
Bilamana
tampaknya semua sudah hilang bagi Luther, Allah memberikan seorang
sahabat dan penolong baginya. Staupitz yang saleh membuka firman Allah
kedalam pikiran Luther dan mengajaknya mengalihkan pandangannya dari
dirinya sendiri, menghentikan merenungkan hukuman tanpa batas karena
pelanggaran hukum Allah, dan memandang kepada Yesus, Juru Selamat yang
mengampuni dosa itu. "Daripada menyiksa dirimu oleh karena dosa dosamu,
jatuhkanlah dirimu ketangan Penebus. Percayalah kepada Nya, kepada
kebenaran kehidupan Nya, kepada penebusan kematian Nya . . . .
Dengarkanlah Anak Allah. Ia menjelma menjadi manusia untuk memberikan
kepadamu jaminan perkenan ilahi." "Kasihilah Dia yang telah lebih dahulu
mengasihimu." Idem, b. 2, ch. 4. Demikianlah pesuruh kemurahan itu
berbicara. Kata katanya itu membawa kesan mendalam di pikiran Luther.
Setelah bergumul dengan kesalahan kesalahan kesayangan lama, ia akhirnya
mampu menerima kebenaran, dan kedamaianpun datang kepada jiwanya yang
susah.
Luther ditahbiskan menjadi imam, dan telah dipanggil keluar
dari biara menjadi guru besar di Universitas Wittenberg. Disini ia
mempelajari Alkitab dalam bahasa aslinya. Ia mulai memberi ceramah
mengenai Alkitab. Dan buku buku Mazmur, Injil, dan Surat Rasul rasul
telah dibukakan kepada pengertian para pendengar yang bergembira.
Staupitz, sahabatnya dan atasannya, mendorongnya untuk naik mimbar dan
mengkhotbahkan firman Allah. Luther merasa ragu karena merasa dirinya
tidak layak berbicara kepada orang orang sebagai ganti Kristus. Hanya
setelah pergumulan yang lama dia menerima permintaan sahabat sahabatnya.
Ia sudah mahir mengenai Alkitab, dan rakhmat Allah turun keatasnya.
Kemampuannya berbicara memikat para pendengarnya, dan penyampaian
kebenaran yang jelas dan dengan kuasa meyakinkan pengertian mereka, dan
semangatnya yang berapi api menyentuh hati mereka.
Luther masih tetap
menjadi anggota gereja kepausan yang sugguh sungguh, dan tidak pernah
berpikir yang lain lain. Dengan pemeliharaan Allah ia telah dituntun
untuk mengunjungi Roma. Ia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki,
dan menginap di biara biara sepanjang perjalanan. Di salah satu biara di
Italia ia dipenuhi keheranan melihat kekayaan, keindahan dan kemewahan
yang disaksikannya. Para biarawan tinggal di apartemen yang megah,
dengan pendapatan yang memuaskan, berpakaian yang paling mewah dan
paling mahal, dan memakan makanan yang mewah. Dengan sangat ragu ragu,
Luther membandingkan pemandangan ini dengan penyangkalan diri dan
kesukaran yang dialaminya dalam hidupnya sendiri. Pikirannya menjadi
bingung.
Akhirnya ia melihat dari kejauhan kota tujuh gunung itu.
Dengan perasaan yang mendalam ia tersungkur ke tanah dan berseru, "Roma
yang kudus, aku menghormatimu." Ia memasuki kota itu, mengunjungi gereja
gereja, mendengarkan cerita cerita dongeng yang diceritakan oleh para
imam dan biarawan, dan menjalankan semua upacara yang diharuskan. Dimana
mana ia melihat pemandangan yang memenuhinya dengan kekaguman dan
ketakutan. Ia melihat bahwa kejahatan terjadi di semua tingkat pendeta.
Ia mendengar lelucon yang tidak sepantasnya dari para pejabat tinggi
gereja, dan dipenuhi dengan kengerian kenajisan mereka, bahkan pada
waktu misa. Pada waktu ia berbaur dengan para biarawan dan penduduk, ia
menemui pemborosan, pesta pora dan kebejatan. Berpaling ke tempat yang
seharusnya suci, ia dapati kenajisan. "Tak seorangpun bisa
membayangkan," ia menulis, "dosa apa dan tindakan tak terpuji apa yang
dilakukan di Roma. Mereka harus melihat dan mendengar sendiri supaya
percaya. Dengan demikian mereka akan bisa berkata, 'Jika ada neraka,
Roma didirikan diatasnya: itu adalah suatu lobang yang dalam darimana
keluar segala jenis dosa.'" D'Aubigne, b. 2, ch. 6.
Dengan dekrit
yang baru, paus telah menjanjikan kesenangan kepada semua yang menaiki
"Tangga Pilatus" dengan berlutut. Katanya tangga itu telah dituruni oleh
Juru Selamat kita pada waktu meninggalkan pengadilan Roma, dan dengan
ajaib telah dipindahkan dari Yerusalem ke Roma. Luther pada suatu hari
menaiki tangga itu dengan sungguh sungguh, pada waktu mana ia tiba tiba
mendengar satu suara bagaikan geledek yang berkata, "Orang benar akan
hidup oleh iman" (Roma 1:17). Ia langsung berdiri dan segera
meninggalkan tempat itu dengan malu dan ngeri. Ayat itu tidak pernah
kehilangan kuasa atas jiwanya. Sejak waktu itu ia melihat lebih jelas
dari sebelumnya pendapat yang keliru, yang mempercayai keselamatan
diperoleh atas usaha manusia, dan pentingnya iman yang terus menerus
kepada usaha Kristus. Matanya sekarang terbuka, dan tak akan pernah lagi
tertutup, karena penipuan kepausan. Pada waktu ia memalingkan wajahnya
dari Roma, hatinya juga ikut berpaling, dan sejak waktu itu jurang
perpisahanpun semakin melebar, sampai akhirnya ia memutuskan semua
hubungannya dengan gereja kepausan.
Sekembalinya dari Roma, Luther
menerima gelar Doctor of Divinity dari Universitas Wittenberg. Sekarang
ia bebas membaktikan dirinya kepada Alkitab yang dicintainya, seperti
belum pernah sebelumnya. Ia telah bernazar untuk mempelajari dengan
teliti firman Allah dan dengan setia akan mengkhotbahkannya seumur
hidupnya, bukan kata kata dan ajaran ajaran para paus. Ia bukan lagi
sekedar biarawan atau guru besar, tetapi juga bentara dan pejabat yang
berwenang Alkitab. Ia telah dipanggil sebagai gembala untuk memberi
makan kawanan domba Allah, yang telah lapar dan haus akan kebenaran.
Dengan tegas ia menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menerima
ajaran lain selain yang berdasarkan otoritas Alkitab yang suci. Kata
kata ini menghantam dasar supremasi kepausan. Kata kata ini mengandung
prinsip vital Pembaharuan (Reformasi).
Luther melihat bahayanya
meninggikan teori teori manusia di atas firman Allah. Tanpa gentar ia
menyerang ketidak percayaan pada agama yang spekulatif dari para dosen,
dan menentang filsafat dan teologi yang telah begitu lama mempunyai
pengaruh menguasai orang orang. Ia mencela pelayanan yang seperti itu
sebagai bukan saja tidak berguna, tetapi juga berbahaya. Dan ia mencoba
mengalihkan pikiran pendengarnya dari argumentasi yang tidak benar
dengan tujuan menipu dari para ahli filsafat dan ahli teologi, kepada
kebenaran kekal yang diletakkan oleh para nabi dan para rasul.
Begitu
berbahaya pekabaran yang dibawanya kepada para pendengar yang rindu dan
yang lapar akan kata katanya. Belum pernah pengajaran seperti itu
mereka dengar sebelumnya. Berita kesukaan mengenai kasih Juru Selamat,
jaminan pengampunan dan kedamaian melalui penebusan darah Nya,
memberikan sukacita dan mengilhamkan suatu pengharapan kekal didalam
hati mereka. Di Wittenberg satu terang sudah dinyalakan yang sinarnya
harus meluas sampai ke hujung bumi, dan yang terangnya bertambah
menjelang akhir zaman.
Akan tetapi terang dan kegelapan tidak bisa
berbaur. Antara kebenaran dan kesalahan ada pertentangan yang tidak bisa
dihilangkan. Untuk meninggikan dan mempertahankan yang satu kita harus
melawan dan membuangkan yang lain. Juru Selamat kita sendiri berkata,
"Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang" (Matius 10:34).
Luther berkata beberapa tahun setelah Pembaharuan, "Allah tidak
menuntun aku, Ia mendorong aku kedepan. Ia membawa aku. Aku bukan tuan
atas diriku. Aku rindu hidup dengan tenang, tetapi aku telah dilemparkan
ke tengah tengah keributan dan revolusi." D'Aubigne, b. 5, ch. 2.
Sekarang ia hampir terbujuk memasuki pertarungan.
Gereja Roma telah
membuat rahmat Allah menjadi barang dagangan. Meja meja penukaran uang
(Matius 21:12) disediakan disamping mezbah mezbah, dan udara dipenuhi
hiruk pikuk teriakan para penjual dan para pembeli. Oleh karena
kebutuhan dana yang besar untuk mendirikan gereja St. Petrus di Roma,
surat surat pengampunan dosa telah dijual secara terbuka atas
persetujuan paus. Dengan hasil kejahatan sebuah kaabah akan didirikan,
tempat berbakti kepada Allah batu penjuru telah diletakkan dengan upah
kejahatan dan kekjaman! Tetapi cara yang digunakan untuk memperbesar
kuasa dan kekayaan Roma telah menimbulkan pukulan yang mematikan kepada
kekuasaannya dan kepada kebesarannya sendiri. Inilah yang membangkitkan
musuh kepausan yang paling bertekad melawan dan yang paling sukses, yang
menimbulkan peperangan yang menggoncangkan istana kepausan, dan yang
telah mendesak mahkota bertingkat tiga itu dari kepala paus.
Petugas
resmi yang ditunjuk melaksanakan penjualan surat pengampunan dosa itu di
Jerman Tetzel namanya telah dipersalahkan melakukan kejahatan terhadap
masyarakat dan terhadap hukum Allah. Tetapi ia tidak dihukum atas
kejahatannya itu, sebaliknya ia dipekerjakan untuk memajukan proyek
mencari keuntungan paus ini. Dengan kelancangan yang sangat ia
mengulangi kepalsuan yang menyolok dan menghubungkan cerita cerita
dongeng untuk menipu orang orang bodoh, orang orang yang mudah percaya
dan yang percaya kepada takhyul. Seandainya mereka mempunyai firman
Tuhan, mereka tidak akan tertipu seperti itu. Alkitab dihindarkan dari
orang orang agar mereka tetap dibawah kekuasaan kepausan, dan agar
kekayaan dan kekuasaan para pemimpinnya terus berkembang. Lihat
Gieseler, Ecclesiastical History," Period IV, sec. 1, par. 5.
Pada
waktu Tetzel memasuki kota, seorang pesuruh mendahului dia dan
mengumumkan, "Rahmat Allah dan bapa kudus sekarang berada di pintu
gerbang Anda." D'Aubigne, b. 3, ch. 1. Dan orang orang menyambut penipu
yang penuh hujat itu, seolah olah ia adalah Allah Sendiri yang datang
dari Surga kepada mereka. Perdagangan keji telah dilakukan di gereja,
dan Tetzel naik ke mimbar dan mengacung acungkan surat pengampunan dosa
itu sambil mengatakan bahwa itulah pemberian yang paling berharga dari
Allah. Ia mengatakan bahwa dengan jasa surat pengampunannya itu semua
dosa yang akan dilakukan oleh pembeli sesudah ini akan diampuni dan
bahwa "pertobatanpun tidak diperlukan." Idem, b. 3, ch. 1. Lebih dari
itu, ia juga memastikan kepada para pendengarnya bahwa surat pengampunan
ini bukan saja berkuasa menyelamatkan yang hidup, tetapi juga yang
sudah meninggal. Pada saat uang itu jatuh ke dasar kotaknya, maka jiwa
untuk siapa uang itu dibayarkan, akan lolos dari api penyiksaan
(purgatori) dan masuk ke Surga. Lihat Hagenbach, "History of the
Reformation," Vol. I, p. 96.
Pada waktu Simon Magus mau membeli dari
rasul rasul kuasa untuk melakukan mujizat, Petrus menjawabnya,
"Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau
menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang" (Kisah
8:20). Tetapi tawaran Tetzel itu disambut oleh ribuan orang yang ingin.
Keselamatan yang dapat dibeli dengan uang lebih mudah didapatkan
daripada keselamatan yng menuntut pertobatan, iman dan usaha yang rajin
untuk menolak dan mengalahkan dosa. (Lihat Lampiran).
Pengajaran
mengenai surat pengampunan dosa telah ditentang oleh kaum terpelajar dan
oleh orang orang saleh di dalam Gereja Roma. Dan banyak yang tidak
percaya kepura puraan atau kemunafikan yang bertentangan dengan akal
sehat dan nubuatan itu. Tak seorangpun pejabat tinggi gereja yang berani
bersuara menentang perdagangan jahat ini. Tetapi pikiran orang orang
telah menjadi terganggu dan gelisah, dan banyak orang yang bertanya
mengapa Allah tidak bekerja dengan cara lain untuk menucikan gereja Nya.
Luther,
meskipun masih pengikut paus yang paling jujur, telah dipenuhi
kengerian terhadap perdagangan surat pengampunan dosa yang penuh dengan
kesombongan dan hujat itu. Banyak anggota jemaatnya telah membeli surat
pengampunan itu, dan mereka segera datang kepada gembala jemaatnya
mengakui dosa dosa mereka, dan mengharapkan pengampunan, bukan karena
mereka sudah bertobat dan menginginkan pembaharuan, tetapi atas dasar
surat pengampunan itu. Luther menolak memberi pengampunan, dan
mengamarkan mereka bahwa kecuali mereka bertobat dan membaharui
kehidupan mereka, mereka akan binasa dalam dosa dosanya. Dalam
kebingungan yang sangat, mereka pergi ke Tetzel dengan keluhan bahwa
gembala jemaat mereka telah menolak sertifikat pengampunan dosa. Dan
sebagian dengan tegas meminta supaya uangnya dikembalikan. Tetzel sangat
marah. Ia mengucapkan kutukan yang paling ngeri, dan menyuruh
menyalakan api alun alun kota, dan menyatakan bahwa ia telah menerima
perintah dari paus untuk membunuh semua bida'ah yang berusaha melawan
surat pengampunan dosa yang mahakudus itu. D'Aubigne, b. 3, ch. 4.
Sekarang
Luther memulai pekerjaannya dengan berani sebagai pejuang kebenaran.
Suaranya terdengar dari atas mimbar memberikan amaran yang sungguh
sungguh dan khidmat. Ditunjukkannya dihadapan orang orang sifat
pelanggaran dasar, dan mengajarkan kepada mereka bahwa adalah tidak
mungkin bagi manusia, atas usahanya sendiri, mengurangi kesalahannya
atau menghindari hukumannya. Tidak ada yang lain kecuali pertobatan
kepada Allah dan iman kepada Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan
orang berdosa. Rahmat Kristus tidak dapat dibeli, itu adalah pemberian
cuma cuma. Ia menasihati orang orang supaya jangan membeli surat
pengampunan dosa, tetapi memandang dengan iman kepada Penebus yang sudah
disalibkan itu. Ia menghubungkan pengalamannya yang menyakitkan yang
dengan sia sia mencari kehinaan diri dan pengampunan untuk mendapatkan
keselamatan. Ia juga meyakinkan pendengarnya bahwa barulah setelah ia
melihat ke luar dari dirinya dan percaya pada Kristus, ia menemukan
kedamaian dan sukacita.
Pada waktu Tetzel meneruskan perdagangan dan
kepura puraannya yang tidak percaya kepada Tuhan, Luther memutuskan
untuk memprotes dengan lebih efektif terhadap penyalah gunaan ini. Suatu
kesempatan segera didapatkan. Gereja kastel Wittenberg, yang mempunyai
beberapa benda benda kuno yang dianggap bernilai agama, yang pada hari
hari besar tertentu dipamerkan kepada umum, memberikan pengampunan penuh
kepada semua orang yang berkunjung ke gereja itu dan yang membuat
pengakuan dosa. Sebagai mana biasanya pada hari hari seperti itu, banyak
orang yang berkunjung ke tempat itu. Salah satu kesempatan yang paling
penting ini, festival "Semua orang kudus," yang sudah hampir tiba.
Pada
hari sebelum fetival itu, Luther, bersama sama dengan orang banyak yang
pergi ke gereja, memakukan di pintu gereja selembar kertas yang berisi
95 dalil atau tesis yang menentang ajaran surat pengampunan dosa. Ia
menyatakan kesediaannya untuk mempertahankan dalil atau tesis ini
besoknya di universitas, terhadap semua yang merasa diserang.
Dalil
dalilnya itu menarik perhatian umum. Mereka membaca, dan membaca ulang
dalil itu, dan mengulanginya di segala penjuru. Suatu kegemparan besar
terjadi di universitas dan seluruh kota itu. Dengan tesis ini telah
ditunjukkan bahwa kuasa untuk memberikan pengampunan dosa dan
penghapusan hukuman tidak pernah diberikan kepada paus atau seseorang
yang lain. Seluruh rencana itu adalah lelucon belaka, suatu kecerdikan
untuk memeras uang oleh bermain melalui ketakhyulan orang orang suatu
alat Setan untuk membinasakan jiwa orang orang yang mau percaya kepada
dusta kepura puraannya. Juga dengan jelas ditunjukkan bahwa Kristus
adalah harta gereja yang paling berharga, dan bahwa rahmat Allah yang
dinyatakannya, diberikan dengan cuma cuma kepada semua orang yang
mencarinya oleh pertobatan dan iman.
Tesis Luther menantang
perbincangan, tetapi tak seorangpun berani menerima tantangan itu.
Pertanyaan pertanyaan yang dihadapkannya telah tersebar ke seluruh
Jerman hanya dalam beberapa hari saja. Dalam beberapa minggu telah
terdengar ke selurh dunia Kekritenan. Banyak dari pengikut agama Roma
yang setia, yang telah melihat dan menyesali kejahatan keji yang
merajalela di gereja tetapi tidak tahu cara menghentikannya, membaca
dalil itu dengan sukacita besar, menganggap dalil itu sebagai suara
Allah. Mereka merasa bahwa tangan Tuhan yang penuh rahmat telah
menghentikan arus kebejatan moral yang cepat membengkak itu yang telah
dikeluarkan dari Roma. Para pangeran dan para pejabat tinggi gereja
bersukacita secara diam diam karena sebuah rintangan telah diberlakukan
terhadap kuasa yang congkak itu, yang telah menghilangkan hak naik
banding atas keputusan keputusannya.
Tetapi orang orang banyak yang
mencintai dosa dan ketakhyulan telah ketakutan pada waktu kepura puraan
yang telah menenangkan ketakutan mereka telah hilang. Para pendeta yang
banyak tipu muslihatnya berhenti sementara dalam melakukan kejahatan
mereka, dan melihat pendapatan mereka dalam bahaya, telah menjadi marah
dan berlomba untuk mempertahankan kepura puraan mereka. Sang Pembaharu
menghadapi para penuduh yang gigih. Sebagian menuduh dia bertindak
gegabah dan menurut dorongan hati saja. Yang lain menuduhnya
berprasangka dan congkak, menyatakan bahwa ia tidak dipimpin oleh Allah,
tetapi bertindak atas kesombongan dan penonjolan diri. "Siapa yang
tidak tahu," katanya, "bahwa seseorang jarang mengemukakan ide baru
tanpa kelihatan sombong dan tanpa dituduh menimbulkan pertengkaran? . . .
. Mengapa Kristus dan para syuhada dibunuh? Oleh karena mereka
tampaknya seperti penghina yang sombong kepada kebijaksanaan masa itu,
dan oleh sebab mereka memajukan hal hal baru tanpa terlebih dahulu,
dengan rendah hati, meminta nasihat orang orang bijaksana sebelumnya."
Sekali
lagi ia nyatakan, "Apa saja yang saya lakukan akan saya lakukan, bukan
oleh kepintaran manusia, tetapi nasihat Allah. Jika pekerjaan itu
datangnya dari Allah, siapakah yang dapat menghentikannya? Jikalau tidak
dari Allh, siapakah yang sanggup meneruskannya? Bukan kehendakku, atau
kehendak mereka atau kehendak kami. Tetapi kehendak Mu, O, Bapa yang
kudus, yang di dalam Surga." Idem, b. 3, ch. 6.
Meskipun Luther telah
digerakkan oleh Roh Allah untuk memulai pekerjaannya, ia tidak
mengerjakannya tanpa pertentangan hebat. Celaan celaan musuh musuhnya,
penyelewengan tujuan tujuannya, dan pencerminan ketidak adilan dan
bahaya atas tabiat dan motifnya, dilancarkan kepadanya seperti banjir
yang sedang melanda, dan semuanya bukan tanpa pengaruh. Ia merasa
percaya diri bahwa para pemimpin orang orang baik dalam gereja maupun di
sekolah sekolah akan dengan senang bersatu dengan dia dalam usaha usaha
pembaharuan. Kata kata dorongan dari mereka yang berada pada kedudukan
yang tinggi, telah mengilhaminya dengan sukacita dan pengharapan. Ia
telah mengantisipasi bahwa hari yang lebih cerah akan terbit di dalam
gereja. Tetapi kata kata dorongan telah berubah menjadi celaan dan
kutukan. Banyak pejabat pejabat tinggi, baik gereja maupun negara telah
diyakinkan oleh kebenaran tesisnya itu; tetapi mereka segera melihat
bahwa penerimaan kebenaran ini akan melibatkan perubahan besar. Memberi
penerangan kepada rakyat dan mengadakan pembaharuan pada orang orang
jelas jelas merendahkan kekuasaan Roma, menghentikan arus kekayaan
mengalir ke perbendaharaan Roma, dan dengan demikian mengurangi
perbuatan melampaui batas, dan kemewahan para pemimpin kepausan. Lebih
jauh, mengajar orang berpikir dan bertindak sebagai makhluk yang
bertanggungjawab, memandang kepada Kristus satu satunya jalan
keselamatan, akan meruntuhkan tahta paus, yang akhirnya menghancurkan
kekuasaannya. Atas alasan alasan ini mereka menolak pengetahuan yang
ditawarkan kepada mereka oleh Allah, dan mempersiapkan diri mereka
melawan Kristus dan kebenaran oleh perlawanan terhadap orang yang telah
dikirimnya menerangi mereka.
Luther gemetar pada waktu dia memandang
dirinya seorang melawan orang yang paling berkuasa di dunia. Kadang
kadang ia ragu ragu apakah ia benar benar dipimpin oleh Allah untuk
melawan otoritas gereja. "Siapakah aku," ia menulis, "menentang
keagungan paus, yang dihadapannya . . . raja raja dunia ini dan seluruh
dunia gemetar? . . . Tak seorangpun yang tahu betapa hatiku menderita
selama dua tahun pertama ini, dan kedalam kemurungan dan keputusasaan
aku tenggelam." Idem, b. 3, ch. 6. Tetapi ia tidak dibiarkan tawar hati.
Bilamana dukungan manusia gagal, ia hanya melihat kepada Allah saja,
dan mengetahui bahwa ia dapat bersandar dengan aman di atas tangan Yang
Mahakuasa itu.
Luther menulis kepada seorang sahabat Pembaharuan,
"Kita tidak dapat mengerti Alkitab itu baik oleh mempelajarinya atau
oleh kepintaran. Tugas pertamamu ialah memulai dengan berdoa. Mintalah
agar Tuhan memberikan kepadamu, oleh kemurahannya yang besar, pengertian
yang benar tentang firman Nya. Tidak ada penafsir firman Allah yang
lain selain Pengarang firman itu sendiri, sebagaimana Ia sendiri
katakan, 'Mereka semua akan diajar oleh Allah.' Janganlah mengharapkan
sesuatu dari usahamu sendiri, dari pengertianmu sendiri. Percayalah
kepada Tuhan saja dan kepada pengaruh Roh Nya. Percayalah kepada
perkataan ini dari seorang yang sudah berpengalaman." Idem, b. 3, ch. 7.
Inilah satu pelajaran yang sangat penting bagi mereka yang merasa
dipanggil oleh Allah untuk menyajikan satu satunya kebenaran itu kepada
orang lain pada masa ini. Kebenaran itu akan membangkitkan rasa
permusuhan Setan dan orang orang yang menyukai cerita cerita dongeng
yang telah dirancangnya. Dalam pertentangan dengan kuasa kejahatan, ada
suatu keperluan yang lebih penting dari pada sekedar kekuatan intelek
dan akal budi manusia.
Bilamana musuh menarik perhatian kepada adat
dan tradisi, atau tuntutan dan kekuasaan paus, Luther menghadapinya
dengan Alkitab, dan satu satunya Alkitab. Inilah argumentasi yang tidak
dapat dijawab oleh mereka. Oleh sebab itu budak budak formalisme dan
ketakhyulan berteriak menuntut darahnya, sama seperti orang orang Yahudi
berteriak menuntut darah Kristus. "Dia seorang bida'ah," teriak orang
orang fanatik Roma itu. "Adalah suatu pengkhianatanbesar terhadap gereja
membiarkan seorang bida'ah hidup lebih dari sejam. Dirikanlah segera
tiang gantungan baginya!" Idem, b. 3, ch. 9. Akan tetapi Luther tidak
jatuh menjadi mangsa keganasan mereka. Allah mempunyai pekerjaan yang
akan dikerjakannya, dan malaikat malaikat Allah telah dikirimkan untuk
melindunginya. Namun begitu, banyak orang yang telah menerima terang
yang berharga itu dari Luther, telah menjadi sasaran murka Setan, dan
demi kebenaran tanpa takut menderita siksaan dan kematian.
Pengajaran
Luther menarik perhatian orang orang cerdik pandai diseluruh Jerman.
Dari khotbah khotbahnya keluarlah sinar sinar terang yang membangunkan
dan menerangi beribu ribu orang. Iman yang hidup menggantikan formalisme
mati yang telah lama dianut gereja. Setiap hari orang orang mulai tidak
percaya lagi kepada ketakhyulan Roma. Hambatan prasangka mulai hilang.
Firman Allah, oleh mana setiap doktrin dan tuntutan diuji oleh Luther,
bagaikan pedang bermata dua, menembusi masuk kedalam hati orang orang.
Dimana mana ada kebangunan kerinduan kepada suatu kemajuan kerohanian.
Dimana mana ada kelaparan dan kehausan kepada kebenaran yang belum
pernah terjadi sebelumnya selama berabad abad. Mata orang orang yang
begitu lama ditujukan kepada upacara upacara manusia dan pengantara
duniawi, sekarang dialihkan kepada pertobatan dan iman kepada Kristus
yang disalibkan itu.
Perhatian orang orang yang semakin meluas ini
menimbulkan rasa takut lebih jauh pada penguasa kepausan. Luther
dipanggil menghadap ke Roma, untuk menjawab tuduhan bida'ah. Perintah
itu membuat teman temannya sangat merasa takut. Mereka mengerti benar
bahaya yang mengancamnya di kota yang bejat itu, yang telah mabuk dengan
darah para syuhada Yesus. Mereka memprotes kepergiannya ke Roma, dan
memohon agar pemeriksaannya dilakukan di Jerman saja.
Permohonan itu
akhirnya disetujui, dan utusan paus dipilih untuk mendengar kasus itu.
Dalam instruksi yang disampaikan paus kepada utusannya dikatakan bahwa
Luther telah dinyatakan sebagai bida'ah. Oleh sebab itu utusan itu
ditugaskan untuk "menuntut dan menahan Luther dengan segera." Jikalau ia
tetap bertahan dan utusan itu gagal untuk menguasainya, maka utusan itu
diberi kuasa untuk "mengucilkan dan mengharamkan dia di seluruh bagian
Jerman, dan menghapuskan, mengutuk dan mengucilkan semua orang yang
berhubungan dengan dia." Idem, b. 4, ch. 2. Lebih jauh paus memberi
petunjuk kepada utusannya agar membasmi sampai keakar akarnya bala
sampar bida'ah, dan mengucilkan semua pejabat gereja maupun pejabat
negara kecuali kaisar, yang melalaikan penangkapan Luther dan pengikut
pengikutnya, dan menyerahkannya kepada pembalasan Roma.
Disinilah
diperagakan roh kepausan yang sebenarnya. Sedikitpun tak terdapat
prinsip Kekristenan, atau bahkan rasa keadilan di dalam seluruh
instruksi itu. Luther berada jauh dari Roma. Dia tidak mendapat
kesempatan untuk menjelaskan atau mempertahankan posisinya. Namun
sebelum kasusya diperiksa ia telah dinyatakan seorang bida'ah, dan pada
hari yang sama didorong, dituduh, dihakimi dan dihukum. Semua ini
dilakukan oleh bapa kudus, satu satunya penguasa tertinggi dan mutlak di
dalam gereja maupun negara.
Pada waktu ini, pada saat Luther begitu
membuthkan simpati dan nasihat dari sahabat sahabat sejatinya,
pemeliharaan Allah mengirim Melanchthon ke Wittenberg. Meskipun masih
muda, rendah hati dan bersahaja, dan masih kurang percaya pada diri
sendiri, tetapi pertimbangannya yang baik dan pengetahuannya dan
kemahirannya berbicara digabung dengan kesucian dan ketulusan tabiatnya,
Melanchthon dikagumi dan dihargai kalangan luas. Kecemerlangan bakatnya
sama menonjolnya dengan kelemah lembutan watak dan tabiatnya. Tidak
lama kemudian ia menjadi murid Injil yang sungguh sungguh dan sahabat
Luther yang paling terpercaya. Kelemah lembutannya, keberhati hatiannya
dan ketepatannya menjadi pelengkap kepada keberanian dan kekuatan
Luther. Perpaduan mereka dalam bekerja menambah kekuatan kepada
Pembaharuan, dan menjadi sumber dorongan kuat bagi Luther.
Telah
ditetapkan kota Augsburg menjadi tempat pemeriksaan pengadilan, dan sang
Pembaharu berjalan kaki ke kota itu. Ketakutan yang serius memenuhi
orang orang oleh karenanya. Ancaman telah dilancarkan secara terbuka
bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh dalam perjalanan, sehingga teman
temannya merintanginya agar jangan mengambil risiko. Bahkan, mereka
memintanya meninggalkan Wittenberg untuk sementara waktu, dan berlindung
pada mereka yang dengan senang melindunginya. Tetapi ia tidak akan
meninggalkan posisi dimana Allah telah menempatkannya. Ia harus terus
mempertahankan kebenaran itu dengan setia, meskipun badai memukulnya.
Inilah ucapannya, "Aku seperti nabi Yeremia, seorang yang penuh dengan
pertikaian dan pertentangan. Tetapi semakin bertambah ancaman mereka,
semakin bertambah pulalah sukacitaku. . . . Mereka telah menghancurkan
kehormatanku dan reputasiku. Hanya satu perkara saja yang masih tinggal,
ialah tubuhku yang hina ini. Biarlah mereka juga mengambilnya, dengan
demikian mereka akan memperpendek hidupku beberapa jam. Tetapi mengenai
jiwaku, mereka tidak dapat mengambilnya. Ia yang rindu menyiarkan firman
Kristus ke dunia ini, harus mengharapkan kematian setiap saat." Idem,
b. 4, ch. 4.
Berita mengenai tibanya Luther di Augsburg memberikan
rasa puas kepada utusan paus. Orang bida'ah yang menyusahkan ini, yang
telah membangkitkan perhatian seluruh dunia, tampaknya sekarang sudah
berada dalam kekuasaan Roma, dan utusan paus itu telah menetapkan agar
ia tidak boleh lolos. Sang Pembaharu itu tidak mempunyai surat jalan
jaminan keselamatan. Sahabat sahabatnya mendesak dia agar jangan menemui
utusan paus itu tanpa surat jalan jaminan keselamatan. Dan mereka
sendiri berusaha mendapatkannya dari kaisar. Utusan paus bermaksud untuk
memaksa Luther, jika mungkin mundur dari keyakinannya, atau jika gagal
dalam hal ini, meneruskannya ke Rom untuk mendapat nasib yang sama
seperti Huss dan Jerome. Itulah sebabnya melalui agen agennya ia
berusaha mengajak Luther menghadap tanpa surat jalan jaminan
keselamatan, dengan mempercayai belas kasihan utusan paus. Ajakan ini
sama sekali ditolak oleh sang Pembaharu itu. Ia tidak akan menghadap
utusan paus sebelum ia menerima dokumen yang menjanjika kepadanya
perlindungan kaisar.
Menurut kebijakan yang diambil, para penguasa
Roma telah memutuskan untuk berusaha menundukkan Luther dengan tampak
seolah olah lembut. Utusan paus dalam wawancara dengannya menunjukkan
seolah olah sangat bersahabat. Tetapi ia mendesak agar secara implisit
tunduk kepada kekuasaan gereja, dan mengalah tanpa argumentasi atau
pertanyaan. Utusan paus itu belum memperhitungkan dengan benar tabiat
orang yang dihadapinya. Sebagai jawaban, Luther menyatakan rasa
hormatnya kepada gereja, kerinduannya kepada kebenaran, kesediaannya
menjawab semua keberatan keberatan terhadap apa yang telah diajarkannya,
dan menyerahkan ajarannya itu untuk dinilai oleh universitas
universitas terkemuka tertentu. Tetapi pada waktu yang sama ia memprotes
sikap kardinal, utusan paus, yang meminta ia mundur tanpa membuktikan
dia bersalah.
Respons satu satunya ialah, "Mundur, mundur!" Pembaharu
itu menunjukkan bahwa posisinya didukung oleh Alkitab, dan dengan tegas
ia katakan bahwa tidak dapat menyangkal kebenaran itu. Utusan paus,
yang tidak sanggup menjawab arguen argumen Luther, menghujaninya dengan
celaan, cemoohan, dan rayuan, yang diselingi dengan kutipan kutipan dari
tradisi dan sebutan sebutan para pater tanpa memberi kesempatan kepada
Pembaharu itu untuk berbicara. Setelah melihat bahwa konferensi itu akan
berakhir dengan kegagalan jika diteruskan, akhirnya Luther mendapat
izin yang terpaksa untuk memberikan jawabannya secara tertulis.
"Dengan
berbuat demikian," katanya dalam suratnya kepada seorang sahabatnya,
"yang tertindas mendapat keuntungan ganda. Pertama, apa yang ditulis itu
dapat diserahkan untuk dipertimbangkan oleh orang lain, dan yang kedua,
seseorang mempunyai kesempatan untuk mengatasi rasa takut terhadap
seseorang yang angkuh, pengocehan dan lalim, yang kalau tidak bisa
dikalahkan dengan bahasa yang sombong dan meninggi." Martyn, "The Life
and Times of Luther," pp. 271, 272.
Pada wawancara berikutnya, Luther
menyatakan pandangannya dengan jelas, singkat dan berbobot, yang
didukung sepenuhnya dengan kutipan kutipan dari Alkitab. Setelah
membacakan tulisannya dengan nyaring, Luther menyerahkannya kepada
kardinal, utusan paus itu. Namun utusan paus menganggap rendah tulisan
itu dan mengesampingkannya, dan mengatakan bahwa tulisan itu adalah
kumpulan dari kata kata yang tidak berguna dan kutipan kutipan yang
tidak relevan. Luther tersinggung, benar benar bangkit dan menghadapi
pejabat tinggi gereja, utusan paus yang nakal itu dengan dasarnya
sendiri, tradisi dan ajaran ajaran gereja dan berhasil mengalahkan
asumsinya.
Bilamana kardinal, utusan paus, melihat bahwa pendapat
Luther itu tidak bisa dijawab, ia sama sekali tidak dapat lagi
mengendalikan dirinya, dan dengan geramnya ia berteriak, "Mundur! atau
saya akan kirim engkau ke Roma, meghadap para hakim yang ditugaskan
menangani masalahmu. Saya akan mengucilkan engkau dengan semua
partisanmu, dan semua yang pada suatu waktu akan membantumu, dan akan
mengusir mereka keluar dari gereja." Dan akhirnya ia mengatakan dengan
nada sombong dan marah, "Mundur, atau engkau tidak akan kembali lagi."
D'Aubigne, b. 4, ch. 8 (London ed.).
Sang Pembaharu dengan segera
meninggalkan tempat itu bersama sahabat sahabatnya. Dengan demikian
menyatakan dengan jelas bahwa tidak akan mundur dari ajaran ajarannya.
Bukanlah ini yang dimaksudkan oleh kardinal. Ia telah menyombongkan diri
bahwa dengan kekuasaan ia membuat Luther menyerah. Sekarang ia
ditinggalkan bersama para pendukungnya, saling melihat satu sama lain
dengan sangat kecewa melihat kegagalan yang tidak diharapkan sebelumnya.
Usaha
usaha Luther pada waktu ini bukannya tidak berhasil baik. Para hadirin
di mahkamah itu berkesempatan membandingkan kedua orang itu, dan menilai
roh yang dinyatakan kedua mereka, serta kekuatan dan kebenaran posisi
mereka masing masing. Sangat bertolak belakang! Pembaharu itu sederhana,
rendah hati, teguh, berdiri dengan kekuatan Allah, kebenaran berada
dipihaknya. Kardinal, utusan paus, merasa diri penting, bersifat
menguasai, sombong, tidak bisa bermusyawarah, tanpa satu argumentasi
dari Alkitab, namun dengan keras berteriak, "Mundur! atau dikirim ke
Roma untuk dihukum."
Meskipun Luther telah memperoleh surat jalan
jaminan keselamatan, para penguasa Roma telah berkomplot untuk
menangkapnya dan memenjarakannya. Sahabat sahabatnya mengataka kepada
Luther bahwa tidak ada gunanya ia tinggal lebih lama dikota itu, ia
harus segera kembali ke Wittenberg, dan ia harus sangat berhati hati
menyembunyikan maksudnya. Ia meninggalkan Augsburg sebelum fajar
menyingsing dengan menunggang kuda, ditemani oleh seorang penunjuk jalan
yang disediakan oleh pejabat kota. Dengan harap harap cemas, dengan
diam diam ia menyusuri jalan jalan kota yang gelap dan sepi. Musuh
musuhnya, dengan berjaga jaga dan dengan kejam telah berkomplot untuk
membinasakannya. Apakah ia bisa meloloskan diri dari perangkap yang
dipasang baginya? Saat itu adalah saat yang menegangkan dan saat untuk
berdoa dengan sungguh sungguh. Mereka tiba di suatu gerbang di tembok
kota. Gerbang itu terbuka baginya, dan bersama penunjuk jalannya
melewatinya tanpa halangan. Setelah selamat tiba diluar kota, pelarian
itu segera melanjutkan perjalanannya, dan sebelum utusan paus mengetahui
kepergian Luther ia sudah jauh berada diluar jangkauan para penuduhnya.
Setan bersama kaki tangannya telah dikalahkan. Orang yang mereka sangka
sudah berada dalam kekuasaannya telah tiada, seperti burung lepas dari
jerat pemburu.
Mendengar kaburnya Luther, utusan paus sangat kaget
dan marah. Ia telah mengharapkan akan memperoleh penghargaan atas
kebijaksanaannya dan keteguhannya dalam menangani pengganggu gereja itu.
Tetapi pengharapannya telah pupus semua dan sangat mengecewakannya. Ia
menyatakan kegeramannya dalam satu surat kepada Frederick, penguasa
Saxony, dengan keras ia mencela Luther dan meminta agar Frederick
mengirimkan Pembaharu itu ke Roma atau ia akan diusir dan dibuang dari
Saxony.
Sebagai pembelaannya, Luther meminta agar utusan paus atau
paus sendiri menunjukkan kepadanya kesalahannya dari Alkitab, dan
berjanji dalam cara yang paling khidmat akan mencela ajaran ajarannya
jika ajaran ajaran itu bertentangan dengan firman Allah. Dan ia
menyatakan rasa syukurnya kepada Allah karena ia telah dianggap pantas
untuk menderita oleh karena Nya.
Penguasa Saxony belum begitu banyak
mengetahui tentang ajaran pembaharuan, tetapi ia sangat terkesan oleh
keterus terangan, kuasa dan jelasnya kata kata Luther. Frederick
berketetapan untuk menjadi pelindung Luther sampai sang Pembaharu itu
terbukti bersalah. Dalam jawabannya kepada tuntutan utusan paus ia
menulis, " 'Oleh karena Doktor Martin Luther telah menghadap Anda di
Augsburg, seharusnya Anda sudah merasa puas. Kami tidak mengharapkan
bahwa Anda membuat dia mundur dari keyakinannya tanpa meyakinkannya
tentang kesalahannya. Tak seorangpun kaum terpelajar di negeri kami yang
memberitahukan kepada saya bahwa ajaran Luther itu tidak menghormati
Tuhan atau tidak beriman, anti Kristen, atau bida'ah.' Disamping itu,
pangeran menolak mengirimkannya ke Roma, atau mengusirnya dari
negaranya." D'Aubigne, b. 4, ch. 10.
Penguasa Saxony melihat bahwa
ada kemerosotan umum moral di masyarakat. Suatu pekerjaan besar
pembaharuan diperlukan. Pengaturan yang rumit dan mahal untuk mencegah
dan menghukum kejahatan tidak akan diperlukan jika orang orang mengakui
dan menuruti tuntutan Allah dan suara hati nuraninya. Ia melihat bahwa
Luther berusaha untuk mencapai tujuan ini, dan secara rahasia ia
bersukacita bahwa pengaruh yang lebih baik sedang terasa di dalam
gereja.
Ia juga melihat bahwa sebagai seorang profesor di
universitas, Luther adalah seorang yang sukses. Baru setahun berlalu
setelah Luther menempelkan tesisnya di gereja kastel, sudah ada
penurunan kunjungan peziarah ke gereja itu pada pesta hari raya Seluruh
Orang Kudus. Roma telah kekurangan kelompok orang yang datang berbakti
dan kekurangan persembahan. Tetapi tempat mereka ini telah diisi oleh
kelompok lain, yang datang ke Wittenberg, bukan menjadi peziarah untuk
mengagumi benda benda bersejarah, tetapi menjadi pelajar pelajar yang
memenuhi ruangan ruangan belajar. Tulisan tulisan Luther telah
membangkitkan minat baru terhadap Alkitab, bukan hanya dari seluruh
bagian Jerman, tetapi juga dari negara negara lain. Mereka berduyun
duyun memasuki universitas. Para pemuda yang pertama kali datang ke
Wittenberg, "mengangkat tangan mereka ke atas dan memuji Allah yang
telah menyebabkan terang kebenaran bersinar dari kota ini, seperti dari
Sion pada zaman dahulu, darimana terang itu tersebar bahkan ke negeri
negeri yang jauh." D'Aubigne, b. 6, ch. 10.
Sampai kini Luther baru
sebagian bertobat dari kesalahan kesalahan Romanisme. Tetapi sementara
ia membandingkan Tulisan tulisan Kudus dengan dekrit kepausan dan undang
undang, ia menjadi sangat keran. "Saya sedang membaca," ia menulis,
"dekrit para paus, dan . . . saya tidak tahu apakah paus itu sendiri
antikristus atau rasulnya. Kristus sangat disalah gambarkan dan
disalibkan didalamnya." Idem, b. 5, ch. 1. Namun sampai saat ini tidak
ada pikirannya untuk memisahkan diri dari persekutuannya
Tulisan
tulisan dan doktrin Pembaharu itu telah meluas kesetiap bangsa didunia
Kekristenan. Pekerjaan itu meluas ke Swis dan ke Negeri Belanda. Salinan
tulisan tulisannya terdapat juga di Perancis dan Spanyol. Di Inggeris
pengajaran Luther diterima sebagai firman kehidupan. Juga ke Belgia dan
ke Italia kebenaran itu telah meluas. Beribu ribu bangkit dari tidur
mereka yang bagaikan orang mati itu, kepada kesukaan dan pengharapan
suatu kehidupan beriman.
Roma menjadi semakin jengkel oleh serangan
serangan Luther. Dan telah dinyatakan oleh beberapa lawan lawannya yang
fanatik, bahkan oleh para doktor di universitas universitas Katolik,
bahwa siapa yang membunuh biarawan pemberontak itu tidak berdosa. Pada
suatu hari seorang asing, dengan pistol disembunyikan dibalik jubahnya,
mendekati Pembaharu itu, dan bertanya mengapa ia berjalan sendirian
seperti itu. Luther menjawab, "Aku berada didalam tangan Tuhan. Ia
adalah kekuatanku dan perisaiku. Apa yang bisa dilakukan oleh seseorang
terhadap aku?" Idem, b. 6, ch. 2. Setelah mendengar perkataan ini orang
asing itu menjadi pucat pasi dan melarikan diri, seperti dari hadapan
malaikat malaikat Surga.
Roma bertekad membinasakan Luther, tetapi
Allahlah pelindungnya dan pertahanannya. Doktrin doktrinnya telah
terdengar dimana mana, "di gubuk gubuk dan biara biara, . . . di kastel
kastel para bangsawan, di universitas universitas, dan di istana raja
raja." Dan para bangsawan telah bangkit untuk mendukung usaha usahanya
disegala bidang. Idem, b. 6, ch. 2.
Kira kira pada waktu inilah
Luther, setelah membaca tulisan tulisan Huss, mendapati bahwa kebenaran
besar pembenaran oleh iman, yang ia sendiri berusaha tinggikan dan
ajarkan, telah dianut oleh pembaharu Bohemia. "Kami semua," kata Luther,
"Paul, Augustine dan saya sendiri, telah menjadi pengikut Huss tanpa
mengetahuinya!" "Allah pasti akan datang melawat dunia ini," lanjutnya,
"bahwa kebenaran itu telah dikhotbahkan kepada dunia ini seabad yang
lalu, dan membakarnya." Wylie, b. 6, ch. 1.
Dalam suatu himbauan
kepada kaisar dan para bangsawan Jerman atas nama Pembaharuan
Kekristenan, Luther menuliskan mengenai paus, "Adalah suatu yang
mengerikan memandang seseorang yang menamakan dirinya sendiri wakil
Kristus, yang memperagakan keindahan dan kemuliaan yang tak seorang
kaisarpun dapat menyamainya. Apakah ini yang dikatakan seperti Yesus
yang malang atau seperti Petrus yang hina? Dia, mereka katakan adalah
Tuan dunia ini! Tetapi Kristus, yang diwakilinya dengan
menyombongkannya, telah berkata, 'Kerajaanku bukan dari dunia ini.'
Dapatkah kekuasaan wakil melebihi kekuasaan atasannya yang diwakilinya?"
D'Aubigne, b. 6, ch. 3.
Mengenai beberapa universitas ia menulis,
"Aku merasa sangat khawatir bahwa universitas universitas akan menjadi
pintu pintu neraka, kecuali mereka dengan rajin menerangkan Alkitab, dan
mengukirkannya didalam hati para pemuda. Saya tidak menasihati
seorangpun untuk menempatkan anaknya di sekolah yang tidak meninggikan
Alkitab. Setiap lembaga pendidikan dimana orang orang tidak diisi dengan
firman Allah akan korup." Idem, b. 6, ch. 3.
Himbauan ini segera
beredar ke seluruh Jerman, dan memberikan suatu pengaruh kuat kepada
orang orang. Seluruh bangsa itu telah digerakkan, dan orang banyak
bangkit berkumpul dibawah panji panji pembaharuan. Penentang penentang
Luther, didorong oleh keinginan untuk membalas, memohon kepada paus agar
mengambil tindakan terhadapnya. Dengan segera dikeluarkan dekrit yang
melarang dan mengharamkan doktrin doktrin Luther. Diberikan waktu enam
puluh hari kepada Pembaharu dengan pengikut pengikutnya, sesudah itu,
jika mereka tidak menarik kembali pernyataannya, semua mereka akan
dikucilkan dari gereja.
Keadaan itu adalah suatu kemelut yang
mengerikan bagi Pembaharuan. Selama berabad abad keputusan pengucilan
Roma telah menakutkan raja raja yang berkuasa sekalipun. Keputusan
seperti itu telah membuat kerajaan yang kuat mengalami bencana dan
kehancuran. Mereka yang dijatuhi hukuman pengucilan, pada umumnya
dipenuhi ketakutan dan kengerian. Mereka tidak diperbolehkan berhubungan
dengan sesamanya, dan diperlakukan sebagai orang terbuang yang tidak
dilindungi oleh undang undang, dan akan diburu untuk dibinasakan. Luther
tidak buta terhadap topan yang akan menimpanya, tetapi ia tetap teguh,
percaya kepada Kristus yang akan menjadi penopangnya dan perisainya.
Dengan iman dan keberanian untuk mati syahid atau menjadi syuhada ia
menulis, "Apa yang akan terjadi aku tidak tahu, atau aku tidak perduli
untuk mengetahuinya . . . . Biarlah pukulan itu menghantam kemana ia mau
menghantam, aku tidak takut. Tidak sehelai daunpun yang jatuh tanpa
kehendak Bapa kita. Betapa Dia lebih memeliharakan kita! Adalah suatu
perkara enteng untuk mati demi Firman itu, karena Firman yang telah
menjadi daging itu Sendiri juga telah mati. Jikalau kita mati bersama
Dia, kita akan hidup bersama Dia. Dan melalui apa yang Dia telah lalui
sebelum kita, kita akan berada dimana Dia ada dan tinggal bersama Dia
selama lamanya." Idem, b. 6, ch. 9 (3d London ed., Walther, 1840).
Pada
waktu surat keputusan paus sampai kepada Luther, ia berkata, "Saya
menganggapnya remeh dan menentang itu sebagai palsu, selaku seorang yang
beriman kepada Tuhan . . . . Kristus Sendirilah yang dipersalahkan
dalam hal ini . . . . Saya bersukacita menanggung derita seperti itu
kalau alasan alasannya baik. Saya telah merasakan kebebasan yang besar
di dalam hati saya, sebab akhirnya saya tahu bahwa paus adalah
antikristus, dan bahwa takhtanya adalah takhta Setan sendiri."
D'Aubigne, b. 6, ch. 9.
Namun, perintah Roma itu bukan tanpa akibat.
Untuk memaksakan penurutan kepada perintah itu digunakanlah pedang,
penyiksaan dan penjara. Orang orang yang lemah dan yang percaya kepada
takhyul gemetar menghadapi dekrit paus itu. Dan sementara banyak yang
bersimpati kepada Luther, banyak juga yang merasa hidup itu terlalu
mahal untuk dikorbankan demi pembaharuan. Segala sesuatu tampaknya
seolah olah menyatakan bahwa pekerjaan Pembaharu itu sudah mau terhenti.
Akan
tetapi Luther tetap tidak takut. Roma telah melemparkan lembing
kutukannya melawan dia. Dan dunia melihatnya, tanpa ragu ragu bahwa ia
akan binasa atau dipaksa menyerah. Tetapi dengan kuasa yang dahsyat ia
balik melemparkan lembing kutukan kepada paus, dan dengan terbuka ia
menyatakan ketetapan hatinya untuk meninggalkan kepausan selama lamanya.
Dihadapan kerumunan para mahasiswa, para doktor dan masyarakat dari
segala lapisan Luther membakar surat keputusan paus itu, bersama buku
undang undang serta surat surat keputusan dan tulisan tulisan lain yang
mendukung kekuasaan kepausan. "Musuh musuhku telah merusakkan maksud
maksud kebenaran didalam pikiran orang orang awam dan merusakkan jiwa
jiwa mereka dengan membakar buku buku saya, dan sebagai gantinya, saya
juga membakar buku buku mereka. Perjuangan yang sungguh sungguh baru
saja mulai. Sampai sekarang saya bermain main dengan paus. Saya memulai
pekerjaan ini dalam nama Allah, dan akan berakhir tanpa saya, dan oleh
kuasa Nya." Idem, b. 6, ch.10
Terhadap celaan musuh musuhnya yang
mengejeknya dengan kelemahan pekerjaannya, Luther menjawab, "Siapa yang
mengetahui kalau kalau Allah tidak memilih dan memanggil saya, dan kalau
mereka tidak harus merasa takut, bukankah dengan menghina saya mereka
menghina Allah Sendiri? Musa sendirian pada waktu keberangkatan dari
Mesir. Elia sendirian pada waktu pemerintahan Raja Ahab. Nabi Yesaya
sendirian di Yerusalem. Nabi Yehezkiel sendirian di Babilon . . . .
Allah tidak pernah memilih sebagai seorang nabi oleh karena ia seorang
imam besar atau orang orang penting lainnya; tetapi biasanya Dia memilih
orang orang yang rendah dan hina, bahkan pada suatu kali gembala Amos.
Pada setiap zaman, orang orang kudus harus menegur orang orang besar,
raja raja, para pangeran, para imam dan para cerdik cendekiawan, dengan
mempertaruhkan nyawa mereka . . . . Saya tidak mengatakan bahwa saya ini
adalah nabi. Tetapi saya katakan bahwa mereka harus merasa takut sebab
saya sendirian, sementara mereka banyak. Saya merasa yakin dalam hal
ini, bahwa firman Allah ada bersama saya, dan bukan bersama mereka."
Idem, b. 6, ch. 10.
Keputusan Luther untuk memisahkan diri dari
gereja bukan tanpa pergumulan sengit dalam dirinya sendiri. Kira kira
pada saat inilah Luther menulis, "Saya merasa semakin sulit setiap hari
untuk melepaskan keengganan yang telah meresap dalam diri sejak masa
kanak kanak.Oh, betapa sakitnya, walaupun Alkitab ada disamping saya
untuk membenarkan kepada diri saya, bahwa saya harus berani berdiri
sendirian menghadapi paus, dan menganggapnya sebagai antikristus! Betapa
hatiku menderita seperti belum pernah terjadi sebelumnya! Berapa kali
saya menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan pertanyaan yang sering
terdengar keluar dari bibir para pengikut kepausan, 'Apakah hanya Anda
sendiri yang bijaksana? Apakah semua orang lain itu salah? Bagaimana
jadinya, jika yang salah itu adalah Anda sendiri, dan yang terlibat
dalam kesalahanmu itu begitu banyak jiwa, yang akan binasa selama
lamanya? Begitulah saya berjuang melawan diri saya sendiri dan melawan
Setan, sampai Kristus, melalui firman Nya yang tidak pernah salah,
menguatkan hatiku melawan keragu raguan itu." Martyn, "Life and Times of
Luther," pp. 372 373.
Paus telah mengancam Luther dengan pengucilan
jika ia tidak menarik kembali pernyataannya, dan ancaman itu sekarang
sudah dilaksanakan. Surat keputusan yang baru menyusul, menyatakan
pemisahan diri Pembaharu itu dari Gereja Roma, dan menyatakannya sebagai
yang dikutuk oleh Surga; termasuk dalam pengutukan ini semua orang yang
menerima ajarannya. Pertentangan besarpun telah dimulai dengan
sepenuhnya.
Perlawanan adalah salah satu yang Allah gunakan untuk
menyatakan kebenaran yang khusus sesuai dengan zamannya. Ada kebenaran
masa kini pada zaman Luther, suatu kebenaran yang pada waktu itu
mempunyai kepentingan khusus. Ada kebenaran masa kini bagi jemaat
sekarang. Dia yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan nasihat
kehendak Nya, telah berkenan menempatkan orang orang dalam berbagai
keadaan, dan menyerahkan kepada mereka tugas tugas yang khusus kepada
zaman dimana mereka hidup dan kepada keadaan keadaan dimana mereka
ditempatkan. Jikalau mereka menghargai terang yang diberikan kepada
mereka, maka pandangan yang lebih luas tentang kebenaran akan dibukakan
kepada mereka. Tetapi kebenaran itu tidak lebih dirindukan oleh
kebanyakan orang sekarang ini daripada oleh para pengikut paus yang
menentang Luther. Atas sifat yang sama, menerima teori teori dan tradisi
tradisi manusia sebagai gantinya menerima firman Allah, sebagaimana
pada zaman zaman terdahulu. Mereka yang menyatakan kebenaran itu
sekarang ini janganlah mengharapkan akan diterima dengan senang hati
melebihi para pembaharu yang terdahulu. Pertentangan yang besar antara
kebenaran dengan kesalahan, antara Kristus dengan Setan, akan semakin
bertambah hebat menjelang penutupan sejarah dunia.
Jesus berkata
kepada murid murid Nya, "Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia
mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia
ini, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia ini, sebab itulah dunia
membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang
hamba tidak lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah
menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah
menuruti firman Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu" ( Yohanes
15:19,20). Sebaliknya Tuhan kita menyatakan dengan jelas, "Celakalah
kamu jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek
moyang mereka telah memperlakukan nabi nabi palsu." (Lukas 6:26). Roh
dunia ini tidak lebih selaras dengan roh Kristus sekarang ini daripada
zaman dahulu. Dan mereka mengkhotbahkan firman Allah dalam kemurniannya
sekarang tidak akan diterima dengan lebih baik sekarang ini seperti juga
dahulu. Bentuk bentuk perlawanan kepada kebenaran itu bisa berubah.
Permusuhan mungkin kurang terbuka karena lebih halus. Tetapi antagonisme
yang sama akan terjadi, dan akan dinyatakan pada akhir zaman.
Sabtu, 22 Juni 2013
HUSS DAN JEROME
Benih Injil telah ditanam di Bohemia pada abad kesembilan. Alkitab telah
diterjemahkan, dan perbaktian umum telah dilaksanakan dalam bahasa
penduduk setempat. Akan tetapi, sementara kuasa paus bertambah,
demikianlah firman Allah semakin tesembunyi. Paus Gregory VII, yang
telah merendahkan harga diri raja raja, tidak kurang niatnya untuk
memperbudak orang orang. Dan untuk itu ia mengeluarkan keputusan
melarang perbaktian umum diadakan di dalam bahasa Bohemia. Paus
mengatakan bahwa "adalah menyenangkan kepada Yang Maha Kuasa kalau
perbaktian kepada Nya dilakukan dalam satu bahasa yang tidak diketahui,
dan bahwa banyak kejahatan dan bida'ah telah timbul karena tidak
mematuhi peraturan ini." Wylie, b. 3, ch.1. Dengan demikian Roma telah
mendekritkan bahwa terang firman Allah harus dipadamkan, dan orang orang
harus ditutup dalam kegelapan. Tetapi Surga telah menyediakan agen agen
lain untuk memelihara gereja. Banyak orang orang Waldenses yang diusir
oleh penganiayaan dari rumah rumah mereka di Perancis dan Italia datang
ke Bohemia. Meskipun mereka tidak berani mengajar secara terang
terangan, mereka dengan bersemangat bekerja secara sembunyi sembunyi.
Dengan demikian iman yang benar itu telah dipelihara dari abad ke abad.
Sebelum zamannya Huss, ada orang orang di Bohemia yang bangkit mempersalahkan dengan terang terangan kebejatan di dalam gereja dan kemerosotan moral orang orang. Usaha mereka itu membangkitkan perhatian dikalangan paus. Timbullah kekuatiran hirarki, dan penganiayaanpun dilakukan ke atas murid murid Injil itu. Mereka diusir ke hutan hutan dan ke gunung gunung dimana mereka mengadakan perbaktian. Mereka diburu oleh tentera dan banyak yang dibunuh. Setelah beberapa lama dikeluarkanlah dekrit bahwa semua yang berpaling dari perbaktian Romaisme harus dibakar. Akan tetapi sementara orang orang Kristen menyerahkan hidup mereka, mereka mengharapkan kepada kemenangan jauh dihadapan mereka. Salah seorang dari mereka yang "mengajarkan bahwa keselamatan hanya didapat oleh iman dalam Juru Selamat yang telah disalibkan itu," mengatakan waktu mau meninggal, "Kemarahan musuh musuh kebenaran sekarang leluasa melawan kita, tetapi itu tidak akan berlangsung selama lamanya. Akan ada seseorang yang bangkit dari orang orang biasa, tanpa pedang dan kekuasaan; dan melawan dia mereka tidak akan bisa sewenang wenang." Wylie, b. 3, ch. 1. Zamannya Luther masih jauh di depan. Tetapi telah bangkit seseorang, yang kesaksiannya melawan Roma akan menggemparkan bangsa bangsa.
John Huss dilahirkan sebagai orang yang hina, dan secara dini telah menjadi anak yatim karena ditinggal mati ayahnya. Ibunya yang saleh, yang menganggap pendidikan dan takut akan Allah sebagai harta milik paling berharga, berusaha membuat ini sebagai warisan bagi anaknya. Huss belajar di sekolah propinsi, kemudian melanjutkan ke universitas di Praha yang diterima sebagai mahasiswa amal, tenpa membayar. Ia disertai ibunya dalam perjalanan ke Praha. Sebagai seorang janda miskin ia tak mempunyai sesuatu harta dunia yang bisa diberikan kepada anaknya. Tetapi sementara mereka semakin dekat ke kota besar itu, ibunya berlutut di samping pemuda yang tidak berayah ini, dan memohon berkat Bapa Surgawi baginya. Ibu tidak begitu menyadari bagaimana doanya itu akan dijawab.
Di universitas itu Huss segera menonjol karena ketekunannya yang tak mengenal lelah dan kemajuannya yang pesat, sementara kehidupannya yang tidak bercacad dan kelemah lembutannya, dan kelakuannya yang baik memberikan kepadanya penghargaan universal. Ia adalah seorang penganut Gereja Roma yang sungguh sungguh, dan seorang yang sungguh sungguh mencari berkat berkat rohani yang dijanjikan akan diberi. Pada suatu perayaan jubileum, ia mengadakan pengakuan dosa, membayarkan uangnya yang terakhir, dan mengikuti arak arakan agar mudah mudahan mendapat bagian pengampunan yang dijanjikan. Setelah ia menyelesaikan pendidikan tinggi, ia memasuki keimamatan, dan dengan segera memperoleh kedudukan yang tinggi. Ia segera bertugas di istana raja. Ia juga diangkat menjadi profesor dan kemudian menjadi rektor universitas dimana ia dulu memperoleh pendidikannya. Dalam beberapa tahun saja, mahasiswa amal yang hina ini telah menjadi kebanggaan negaranya, dan namanya telah terkenal di seluruh Eropa.
Tetapi Huss memulai pekerjaan pembaharuan dalam bidang lain. Beberapa tahun setelah ia menjadi imam, ia ditunjuk sebagai pengkhotbah di kapel Betlehem. Pendiri kapel ini telah melakukan pengkhotbahan Alkitab dalam bahasa masyarakat setempat, sebagai sesuatu yang sangat penting. Walaupun Roma menentang tindakan seperti itu, belum sepenuhnya dihentikan di Bohemia. Tetapi mereka sangat buta mengenai Alkitab, dan kejahatan merajalela disemua lapisan masyarakat. Kejahatan ini sangat dicela oleh Huss, dan menghimbau untuk memperhatikan firman Allah dan menjalankan prinsip prinsip kebenaran dan kesucian yang ia telah ajarkan berulang ulang.
Seorang warga Praha yang bernama Jerome, yang kemudian begitu dekat berhubungan dengan Huss, telah membawa tulisan tulisan Wycliffe pada waktu ia kembali dari Inggeris. Ratu Inggeris, yang telah bertobat kepada pengajaran Wycliffe, adalah putri Bohemia. Dan melalui pengaruhnya juga pekerjaan Reformasi itu telah disebarkan secara luas di negara asalnya. Tulisan tulisan itu dipelajari oleh Huss dengan minat yang besar. Ia percaya pengarang tulisan tulisan itu adalah seorang Kristen yang sungguh sungguh, sehingga ia cenderung mengakui pembaharuan pembaharuan yang dilancarkannya. Huss sebenarnya telah memasuki suatu jalan yang membawanya jauh dari Roma, walaupun ia tidak menyadarinya.
Pada waktu itu ada dua orang orang asing yang baru tiba di Praha dari Inggeris. Orang orang itu adalah orang orang terpelajar, yang telah menerima terang. Mereka datang untuk menyebarkan terang di negeri itu. Mereka memulai dengan serangan terbuka terhadap supremasi paus, dan oleh karena itu mereka segera dibungkam oleh para penguasa. Tetapi oleh karena mereka tidak mau membatalkan niatnya, maka mereka terpaksa mencari cara lain. Oleh karena mereka adalah artis artis yang sekali gus pengkhotbah, mereka mulai menggunakan kemahiran mereka. Di suatu tempat yang terbuka untuk umum mereka melukis dua gambar. Yang satu menggambarkan Kristus memasuki Yerusalem, "lemah lembut dan mengenderai seekor keledai" (Matius 1: 5), dan diikuti oleh murid murid Nya dengan pakaian yang sudah kumal dan dengan kaki telanjang. Lukisan yang satu lagi menggambarkan prosesi kepausan paus berhias diri dengan jubah yang mewah dan dengan mahkota tiga tingkat, duduk di atas kuda yang dihiasi dengan agungnya, yang didahului oleh peniup sangkakala dan diikuti oleh para kardinal dan pejabat pejabat tinggi agama dalam suatu kemegahan.
Ini merupakan suatu khotbah yang menarik perhatian semua golongan. Orang ramai berkerumun melihat lukisan itu. Tak seorangpun yang gagal membaca makna moral lukisan itu, bahkan banyak yang terkesan secara mendalam oleh perbedaan menyolok antara kelemah lembutan dan kerendahan hati Kritus, Tuhan itu, dengan kesombongan dan keangkuhan paus, yang mengatakan dirinya hamba Kristus. Terjadilah keributan di Praha. Dan demi keselamatan mereka, kedua orang asing itu merasa perlu untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi pelajaran yang mereka telah ajarkan tidak dilupakan. Lukisan itu memberikan kesan mendalam dalam pikiran Huss, sehingga menuntun dia untuk mempelajari Alkitab dan tulisan tulisan Wycliffe lebih teliti. Meskipun pada waktu itu ia belum siap untuk menerima semua pembaharuan yang dicetuskan oleh Wycliffe, ia melihat semakin jelas tabiat kepausan. Dan dengan semangat yang lebih besar ia mencela kesombongan, ambisi dan kebejatan moral para hirarki.
Dari Bohemia terang itu meluas ke Jerman, karena gangguan yang terjadi di Universitas Praha menyebabkan ratusan mahasiswa Jerman ditarik dari sana. Banyak dari antara mereka telah menerima pengetahuan pendahuluan Alkitab dari Huss. Dan pada waktu mereka kembali, mereka menyiarkan Injil itu di negeri mereka.
Berita mengenai pekerjaan di Praha telah sampai ke Roma. Dan Huss dipanggil untuk menghadap paus di Roma. Memenuhi panggilan seperti itu berarti Huss membuka diri kepada kematian. Raja dan ratu Bohemia, universitas, kaum bangsawan dan pejabat pejabat pemerintah bersatu untuk mengajukan suatu permohonan kepada paus, agar Huss diizinkan tetap tinggal di Praha, dan memberikan jawaban di Roma melalui wakil atau utusan. Gantinya memenuhi permintaan itu paus melanjutkan mengadili dan menghukum Huss dan menyatakan Praha sebagai kota terlarang (tidak boleh mengadakan upacara kudus sakramen). Pada masa itu hukuman seperti ini, bila diumumkan, akan menimbulkan kegemparan dan ketakutan. Upacara yang diadakan bersamaan dengan pengumuman disesuaikan benar untuk menimbulkan teror kepada seseorang yang memandang paus sebagai wakil Allah sendiri, yang memegang anak kunci surga dan neraka, dan mempunyai kuasa untuk mengadakan pengadilan duniawi maupun rohani. Dipercayi bahwa pintu surga telah tertutup bagi daerah yang dinyatakan terlarang, sehingga orang orang mati di daerah yang terlarang seperti itu tidak akan masuk ke tempat yang berbahagia sampai paus dengan senang hati mencabut larangan itu. Sebagai tanda bencana yang mengerikan ini, semua upacara agama dihentikan. Gereja gereja ditutup. Upacara pernikahan dilaksanakan di halaman gereja saja. Orang orang mati dilarang dikuburkan di tempat pemakaman yang telah ditahbiskan. Mereka dikuburkan di parit parit atau di ladang ladang tanpa upacara penguburan. Dengan demikian, oleh hal hal yang menarik kepada imaginasi orang orang, Roma berusaha menguasai hati nurani manusia.
Kota Praha dipenuhi kegemparan dan kekacauan. Sebagian besar menuduh Huss sebagai penyebab dari semua malapetaka ini dan menuntut agar ia menyerah saja kepada tindakan balas dendam Roma. Untuk menenangkan gejolak tersebut, untuk sementara Pembaharu itu mengundurkan diri ke kampung halamannya. Ia menulis kepada teman temannya di Praha, "Jika saya mengundurkan diri dari tengah tengah Anda sekalian, adalah mengikuti ajaran dan teladan Yesus Kristus, untuk memberikan kesempatan kepada orang orang yang sudah sakit pikiran mengambil bagi dirinya hukuman yang kekal, dan agar supaya jangan menjadi penyebab kepicikan dan penganiayaan bagi orang orang saleh. Saya juga mengasingkan diri dengan pengertian agar imam imam yang tidak saleh itu boleh terus melarang pengkhotbahan firman Allah lebih lama di tengah tengah kamu. Tetapi saya tidak membebaskan kamu untuk menyangkal kebenaran ilahi, untuk mana, dengan pertolongan ilahi, saya bersedia mati." Bonnechose, "The Reformers before the Reformation," Vol. I, p. 87, (ed.1844). Huss tidak berhenti beusaha. Ia menjelajahi negeri negeri disekitarnya, berkhotbah kepada orang orang yang berminat mendengar. Dengan demikian usaha usaha yang dimaksudkan paus untuk menekan penyebaran Injil itu, justru menyebabkan lebih luas menyebar. "Karena kami tidak dapat berbuat apa apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran" (2 Kor. 13:8). "Sampai sejauh ini dalam karirnya, pikiran Huss tampaknya dipenuhi oleh pertentangan yang sengit. Meskipun gereja menyerang dia bagaikan petir, tetapi ia tidak menyangkal kekuasan gereja itu. Baginya Gereja Roma masih tetap isteri Kristus, dan paus adalah utusan dan wakil Allah. Yang ditentang oleh Huss ialah penyalah gunaan kekuasaan, bukan prinsipnya. Hal ini membawa pertentangan besar antara keyakinan pengertiannya dengan tuntutan hati nuraninya. Jikalau kekuasaan itu benar dan mutlak, sebagaimana yang dipercayainya demikian, bagaimana mungkin sampai ia merasa terpaksa untuk menolaknya? Ia melihat, bahwa menuruti kuasa itu berarti dosa. Tetapi mengapa penurutan kepada gereja yang mutlak seperti itu menuntun kepada masalah? Inilah masalah yang tidak bisa dipecahkannya. Inilah keragu raguan yang menyiksanya setiap saat. Penyesuaian yang paling mungkin, yang bisa dilakukannya, ialah bahwa hal itu terjadi lagi, sebagaimana pernah terjadi pada zaman Juru Selamat. Imam imam gereja telah menjadi jahat dan menggunakan wewenangnya yang legal untuk sesuatu hasil yang tidak legal. Ini menuntunnya untuk mengambil satu pedoman bagi dirinya, dan mengkhotbahkan kepada orang orang lain, bahwa peribahasa ajaran Alkitab yang disampaikan melalui pengertian, itulah yang mengendalikan hati nurani. Dengan perkataan lain, bahwa Allah berbicara di dalam Alkitab, dan bukan gereja berbicara melalui imam imam. Inilah penuntun yang mutlak." Wylie, b. 3, ch. 2.
Bilamana pada suatu waktu kegemparan di Praha telah reda, maka Huss kembali kekapelnya di Betlehem, untuk meneruskan mengkhotbahkan firman Allah dengan lebih berani dan lebih bersemangat. Musuh musuhnya terus aktif dan kuat, tetapi ratu dan beberapa orang bangsawan adalah teman temannya, dan banyak orang memihak kepadanya. Dengan membandingkan pengajarannya yang murni dan yang mengangkat jiwa serta kehidupannya yang kudus, dengan dogma dogma yang menurunkan martabat yang diajarkan oleh pengikut pengikut Gereja Roma dan keserakahan dan kerakusan yang dilakukan mereka, banyaklah yang merasa suatu kehormatan kalau berpihak kepada Huss.
Sampai sejauh ini Huss masih sendirian dalam pekerjaannya. Tetapi sekarang Jerome, yang pada waktu di Inggeris telah menerima pengajaran Wycliffe, menggabungkan diri kepada pekerjaan pembaharuan (reformasi). Sejak waktu itu keduanya bersatu didalam hidup, dan dalam kematianpun mereka tidak mau dipisahkan. Jerome mempunyai kecerdasan dan kepintaran yang menonjol, kebolehan kebolehan yang membuat seseorang mudah populer. Tetapi dalam kualitas yang membentuk kekuatan tabiat yang sebenarnya, Huss lebih unggul. Pertimbangannya yang tenang dapat menjadi pengekang kepada semangat Jerome yang suka meledak ledak, yang dengan kerendahan hati, menerima kata kata dan nasihatnya. Dengan usaha mereka yang bersatu, pekerjaan pembaharuan itu lebih cepat berkembang.
Allah membiarkan terang yang besar bersinar ke dalam pikiran orang orang piliha ini, menyatakan kepada mereka kesalahan kesalahan Roma yang banyak. Tetapi mereka tidak menerima semua terang yang harus diberikan kepada dunia ini. Melalui hamba hambanya ini Allah telah menuntun orang orang keluar dari kegelapan Romanisme. Tetapi banyak dan besarlah rintangan yang mereka hadapi. Dan Tuhan memimpin mereka terus langkah demi langkah didalam pekerjaannya sebagaimana yang sanggup mereka pikul. Mereka tidak dipersiapkan untuk menerima semua terang itu sekali gus. Seperti kemuliaan sinar matahari pada waktu tengah hari kepada orang orang yang sudah lama tinggal di dalam kegelapan, jika diberikan dengan serta merta, akan menyebabkan mereka meninggalkan kebenaran itu. Itulah sebabnya, Allah menyatakannya sedikit demi sedikit kepada para pemimpin, sebagaimana kesanggupan orang orang menerimanya. Dari abad ke abad, pekerja pekerja yang setia susul menyusul menuntun orang orang lebih jauh kedalam jalan pembaharuan.
Perpecahan dalam gereja masih terus berlangsung. Sekarang tiga orang paus bersaing untuk mendapatkan supremasi, dan persaingan mereka itu memenuhi dunia Kekristenan dengan kejahatan dan keributan. Tidak puas dengan saling mengutuk, mereka juga menggunakan senjata. Masing masing membeli senjata dan membentuk pasukan tentera. Sudah barang tentu mereka memerlukan uang untuk ini. Dan untuk memperoleh uang mereka menjual hadiah hadiah, jabatan dan berkat berkat gereja (Lihat Lampiran). Para imam juga meniru atasan mereka, memperjual belikan pangkat gereja dan berperang menjatuhkan martabat lawan dan memperkuat kekuasaan sendiri. Dengan keberanian yang semakin bertambah setiap hari, Huss mencela kekejian yang dilakukan dengan kedok agama. Dan orang orang menuduh para pemimpin Roma sebagai penyebab penderitaan yang menimpa dunia Kekristenan.
Sekali lagi kota Praha nampaknya berada di tepi jurang pertikaian berdarah. Seperti pada zaman zaman dahulu, hamba hamba Allah dituduh sebagai "yang mencelakakan Israel" ( 1 Raja raja 18:17). Kota itu sekali lagi dinyatakan sebagai kota terlarang, dan Huss mengundurkan diri ke kampung halamannya. Berakhirlah sudah kesaksian setia yang keluar dari kapelnya di Betlehem. Ia akan berbicara dari podium yang lebih luas kepada semua dunia Kekristenan, sebelum menyerahkan nyawanya sebagai saksi kebenaran.
Untuk mengatasi kejahatan kejahatan yang mengganggu Eropa, maka diadakanlah konsili umum di Constance. Konsili itu diadakan atas kemauan kaisar Sigismund, oleh salah seorang paus yang bersaing, Yohanes XIII. Sebenarnya Paus Yohanes tidak menyukai diadakannya konsili itu oleh karena tabiat pribadinya dan kebijaksanaannya tidak tahan pemeriksaan, baik oleh pejabat pejabat tinggi gereja, yang kurang bermoral sebagaimana juga para anggota gereja pada masa itu. Namun, ia tidak berani melawan keinginan kaisar Sigismund. (lihat Lampiran).
Tujuan utama yang hendak dicapai konsili itu ialah untuk memulihkan perpecahan didalam gereja, dan untuk membasmi bida'ah atau aliran yang menyimpang. Oleh karena itu kedua orang yang anti paus telah dipanggil menghadap serta propagandis utama pemikiran pemikiran baru John Huss. Kedua orang anti paus tidak mau menghadap oleh karena alasan keselamatan, tetapi mengirim utusannya untuk mewakili. Paus Yohanes, sementara berpura pura sebagai seorang yang mengadakan konsili itu, ia datang dengan keragu raguan, menduga bahwa kaisar berencan secara diam diam untuk menggulingkannya. Ia takut diminta pertanggungan jawab atas kejahatan kejahatan yang merendahkan mahkota kepausan, serta kejahatan kejahatan yang telah dilakuka untuk mendapatkannya. Namun begitu ia memasuki kota Constance dengan suatu kebesaran dan keagungan disertai para pendeta golongan atas dan diikuti oleh iring iringan panjang pegawai tinggi istana. Semua pendeta dan para pejabat kota bersama kerumunan massa keluar menyambut dan mengelu elukan dia. Di atas kepalanya terbentang penutup singgasana keemasan yang diusung oleh empat orang pejabat tinggi. Roti Suci dibawa dihadapannya, dan kemegahan pakaian para kardinal dan para bangsawan membuat suatu pameran yang mengagumkan.
Sementara itu seorang lain yang mengadakan perjalanan juga sedang mendekati kota Constance. Huss sadar akan bahaya yang mengancam dia. Ia berpisah dengan teman temannya, seolah olah ia tidak akan pernah melihat mereka lagi. Dan ia menjalani perjalanannya dengan perasaan seolah olah berjalan menuju tiang gantungan. Walaupun ia telah mendapatkan surat pas jalan dari raja Bohemia dan kaisar Sigismund untuk perjalanannya ini, ia telah mengatur sedemikian rupa oleh karena kemungkinan kematiannya.
Dalam sebuah suratnya yang ditujukan kepada teman temannya di Praha ia berkata, "Saudara saudaraku, . . . Saya pergi dengan surat pas jalan dari raja, untuk menemui musuh musuh saya yang banyak . . . . Saya menaruh kepercayaan penuh pada kuasa Allah, pada Juru Selamatku; saya percaya bahwa Ia akan mendengarkan doamu yang sungguh sungguh, agar Dia memasukkan kebijaksanaan Nya dan akal budi Nya kedalam mulutku, agar supaya saya boleh bertahan terhadap mereka. Dan agar Dia memberikan Roh Suci Nya untuk menguatkan aku didalam kebenaran Nya, agar supaya saya dapat menghadapi dengan berani segala pencobaan dan penjara, dan jikalau perlu, kematian yang kejam. Yesus Kristus menderita untuk semua yang dikasihi Nya, dan oleh sebab itu bukankah kita patut bergembira karena Ia telah memberikan teladan Nya bagi kita, agar supaya kita tabah menanggung segala sesuatu demi keselamatan kita? Ia adalah Allah, dan kita adalah makhluk Nya. Ia adalah Tuhan, dan kita adalah hamba hamba Nya. Ia adalah Tuhan dunia ini, dan kita adalah manusia berdosa yang hina dan keji namun Dia telah menderita untuk kita! Kalau begitu, mengapa kita juga tidak menderita, terutama kalau penderitaan itu bagi kita adalah penyucian? Oleh sebab itu, Saudara saudara yang kekasih, jikalau kematianku untuk kemuliaan Nya, berdoalah supaya kematian itu cepat datang, dan agar Dia menyanggupkan aku menanggung semua malapetaka dengan keteguhan hati. Akan tetapi jika adalah lebih baik aku kembali ke tengah tengah kamu, baiklah kita berdoa kepada Allah agar aku boleh kembali tanpa noda, yaitu, agar aku jangan menyembunyikan satupun kebenaran Injil, agar aku dapat meninggalkan suatu teladan bagi saudara saudaraku untuk diikuti. Oleh sebab itu, mungkin Saudara saudara tidak akan memandang mukaku lagi di Praha. Tetapi jika menjadi kehendak Allah yang maha kuasa berkenan mengembalikan aku kepada kamu, marilah kita maju terus dengan hati yang semakin teguh dalam pengetahuan dan kecintaan kepada hukum Nya." Bonnechose, Vol. I, pp. 147,148.
Dalam surat lain, kepada seorang imam yang telah menjadi murid Injil, Huss berbicara dengan kerendahan hati yang mendalam mengenai kesalahan kesalahannya sendiri, menuduh dirinya sendiri, "telah menikmati kesenangan dalam memakai pakaian yang mewah, dan telah menghabiskan waktu dalam pekerjaan yang sia sia." Lalu ia menambahkan nasihat yang menyentuh hati ini: "Biarlah kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa jiwa menempati pikiranmu, dan bukan kedudukan dan harta kekayaan. Berhati hatilah, jangan menghiasi rumahmu melebihi jiwamu. Dan diatas segalanya, berikanlah perhatianmu kepada pembangunan kerohanian. Berlakulah saleh dan rendah hati kepada orang miskin, dan jangan menghabiskan hartamu dalam pesta pora. Jikalau engkau tidak mengubah kehidupanmu dan berhenti dari segala yang berlebihan, saya khawatir bahwa engkau akan dihukum seperti saya ini . . . . Engkau mengetahui ajaranku, karena engkau telah menerima petunjukku sejak dari masa kanak kanakmu. Oleh sebab itu tidak ada gunanya bagiku menulis kepadamu lebih jauh. Tetapi saya meminta kepadamu, oleh rahmat Tuhan kita, agar tidak meniruku dalam kesombongan yang sia sia, kedalam mana engkau saksikan aku jatuh." Pada sampul suratnya itu ia menambahkan, "Saya menghimbaumu, Saudaraku, jangan membuka surat ini sampai engkau sudah mendapat kepastian bahwa saya sudah mati." Bonnechose, Vol. I, pp. 148,149.
Dalam perjalanannya, Huss melihat dimana mana tanda tanda tersebarnya ajaran ajarannya, dan dukungan demi perkembangan ajaran itu. Orang orang berduyun duyun menemuinya, dan di beberapa kota pejabat pejabat menyambutnya di jalan jalan mereka.
Setelah tiba di Constance, Huss diberikan kekebasan penuh. Kepada surat pas jalan yang diberikan oleh kaisar telah ditambahkan jaminan perlindungan pribadi oleh paus. Tetapi pelanggaran kepada deklarasi yang sungguh sungguh dan diulang ulang ini, menyebabkan Pembaharu itu ditangkap dalam waktu singkat, atas perintah paus dan para kardinal, dan menjebloskannya kedalam penjara bawah tanah yang menjijikkan. Kemudian dipindahkan ke kastil yang kokoh di seberang Rhine sebagai tawanan. Tidak berapa lama kemudian, paus, oleh karena pengkhianatannya telah dijebloskan kedalam penjara yang sama. Lihat Idem, p. 247. Dihadapan konsili, ia telah terbukti melakukan kejahatan yang paling mendasar, disamping pembunuhan, memperjual belikan kedudukan gereja dan perzinahan, "dosa dosa yang tidak pantas disebut namanya." Jadi konsili mengeluarkan pernyataan; dan demikianlah akhirnya mahkota dicopot dari padanya, dan ia dijebloskan kedalam penjara. Orang orang yang anti paus juga dicopot dan paus barupun dipilih.
Meskipun paus sendiri telah melakukan kesalahan yang lebih besar daripada yang pernah dituduhkan Huss kepada para imam, dan untuk itu ia menuntut diadakan reformasi, namun konsili yang sama yang menurunkan martabat paus, juga meneruskan menumpas Pembaharu. Dengan dipenjarakannya Huss telah menimbulkan kemarahan di Bohemia. Kaum bangsawan yang berkuasa mengajukan protes keras kepada konsili menentang perbuatan biadab itu. Kaisar, yang tidak suka mengizinkan pelanggaran ini kepada surat pas jalan yang diberikannya, menentang tindakan yang dilakukan kepada Huss. Tetapi musuh musuh Pembaharu begitu ganas dan bersikeras. Mereka memohon perhatian raja mengenai prasangkanya, ketakutannya dan semangatnya terhadap gereja. Mereka mengajukan argumentasi yang panjang lebar untuk membuktikan bahwa "iman tidak boleh dipelihara dengan bida'ah atau orang orang yang dicurigai menganut kepercayaan yang menyimpang, walaupun mereka dilengkapi dengan surat surat pas jalan dari kaisar atau raja raja." Lenfant, "History of the Councils of Constance," Vol. I, p. 516. Maka dengan demikian merekapun berhasil.
Dilemahkan oleh penyakit dan penahanannya didalam penjara bawah tanah yang lembab dengan udara yang bau busuk, telah menyebabkan ia menderita demam yang nyaris mengakhiri hidupnya. Akhirnya Huss dihadapkan kedepan konsili. Dibebani dengan rantai rantai, ia berdiri dihadapan kaisar yang mulia dan yang mempunyai iman yang baik, yang telah berjanji melindunginya. Selama pemeriksaannya yang memakan waktu lama, dengan teguh ia mempertahankan kebenaran, dan di hadapan perkumpulan para pejabat tinggi gereja dan negara ia mengeluarkan protes yang sungguh sungguh dan jujur menentang kebejatan para hirarki.
Rahmat Allah mendukung dia. Selama minggu minggu yang telah berlalu sebelum keputusan terakhirnya, damai Surga memenuhi jiwanya. "Saya menulis surat ini," katanya kepada seorang temannya, "di dalam ruang penjara saya, dan dengan tangan saya yang terbelenggu, menanti pelaksanaan hukuman mati saya besok . . . . Bilamana, dengan pertolongan Yesus Kristus, kita kan bertemu lagi dikedamaian kehidupan yang akan datang, engkau akan tahu bagaimana Allah yang berbelas kasihan itu telah ditunjukkan Nya sendiri kepadaku, dan betapa besar pertolongan Nya kepadaku dalam pencobaan dan pengadilanku." Bonnechose, Vol. II, p. 67.
Didalam kegelapan penjara ia melihat kemenangan iman yang benar. Dalam mimpi ia kembali ke kapel di Praha dimana ia mengkhotbahkan Injil, ia melihat paus dan para uskupnya menghapus gambar Kristus yang telah dilukisnya di dinding kapel itu. "Penglihatan ini menyusahkan hatinya, tetapi hari berikutnya ia melihat banyak pelukis melukis kembali gambar itu dalam jumlah yang lebih besar dan dengan warna yang lebih terang. Segera setelah tugas mereka selesai, para pelukis itu, yang telah dikelilingi oleh banyak sekali orang, berseru, 'Sekarang biarlah para paus dan para uskup datang. Mereka tidak akan pernah lagi bisa menghapus gambar itu!' " Pembaharu itu berkata pada waktu ia menghubungkan mimpinya, "Saya merasa pasti, bahwa gambar Kristus tidak akan pernah dihapus. Mereka ingin memusnahkannya, tetapi akan dilukis baru di dalam semua hati oleh para pengkhotbah yang jauh lebih baik dari saya." D'Aubigne, b. 1, ch.6.
Untuk terakhir kalinya, Huss dibawa kembali kehadapan konsili. Mahkamah sekali ini adalah mahkamah yang brilian dan luas dihadiri oleh kaisar, para pangeran kerajaan, para deputi kerajaan, para kardinal, uskup uskup dan imam imam; dan orang banyak yang datang sebagai penonton kejadian hari itu. Dari seluruh dunia Kekristenan telah berkumpul untuk menyaksikan korban besar yang pertama ini yang telah lama memperjuangkan kebebasan hati nurani.
Setelah dipanggil untuk mendengarkan keputusan terakhir, Huss menyatakan penolakannya untuk menyangkal keyakinannya, dan sambil menujukan pandangannya yang tajam kepada kaisar yang kata kata janjinya telah dilanggar dengan tidak mengenal malu, ia mengatakan, "Saya memutuskan atas kemauan saya sendiri, untuk hadir dihadapan konsili ini dibawah perlindungan umum dan jaminan keelamatan kaisar yang hadir di sini." Bonnechose, Vol. II, p. 84. Wajah kaisar Sigismund menjdi merah padam pada waktu semua mata orang yang hadir di mahkamah itu memandang kepadanya.
Keputusan telah diumumkan, upacara penurunan pangkatpun dimulai. Para uskup mengganti pakaiannya dan memakaikan pakaian keimamatan. Dan pada waktu ia mengenakan pakaian keimamatan itu, ia berkata, "Tuhan kita Yesus Kristus telah dibungkus dengan kain putih sebagai penghinaan, pada waktu Herodes memerintahkan menghadapkannya kepada Pilatus." Bonnechose, Vol. II, p. 86. Pada waktu sekali lagi ia diminta untuk menarik kembali pernyataannya, ia menjawab sambil berbalik kepada orang banyak, "Lalu dengan muka apa saya harus memandang Surga? Bagaimana saya melihat orang banyak itu kepada siapa saya sudah khotbahkan Injil yang sejati? Tidak. Saya lebih menghargai keselamatan mereka daripada tubuh saya yang hina ini, yang sekarang telah diputuskan untuk dibunuh." Pakaiannya ditanggalkan satu persatu; setiap uskup mengatakan kata kata kutukan sementara mereka melakukan tugasnya dalam upacara itu. Akhirnya, "mereka mengenakan diatas kepalanya sebuah topi atau semacam topi yang dipakai oleh uskup dalam upacara, yang berbentuk piramida dan terbuat dari kertas. Dikertas itu dilukiskan gambar gambar Setan dengan kata kata, 'Kepala Bida'ah,' dituliskan dengan menyolok dibagian depan. 'Sangat senang' kata Huss, 'akan saya pakaikah mahkota yang memalukan ini demi Engkau, O, Yesus, yang telah mengenakan mahkota duri untukku?'"
Setelah itu, "para pejabat tinggi gereja berkata, 'Sekarang kami serahkan jiwamu kepada Setan.' 'Dan aku,' kata John Huss, dengan menengadah kelangit, 'menyerahkan rohku kedalam tangan Mu, O, Tuhan Yesus, oleh karena Engkau telah menebus aku.'" Wylie, b. 3, ch. 7.
Sekarang ia diserahkan kepada pejabat pejabat pemerintah, dan dibawa ketempat pelaksanaan hukuman mati. Suatu arak arakan besar mengikuti dia, ratusan orang bersenjata, para imam dan para uskup dengan berpakaian yang mahal mahal, dan penduduk kota Constance. Pada waktu ia diikat ketiang gantungan, dan semua sudah siap untuk menyalakan api, orang martir (mati syahid) ini sekali lagi dihimbau untuk menyelamatkan dirinya dengan meninggalkan kesalahannya. "Kesalahan apa," kata Huss, "yang saya harus tinggalkan? Saya tahu saya tidak bersalah. Saya memohon Allah untuk menyaksikan bahwa semua yang saya telah tuliskan dan khotbahkan adalah demi penyelamatan jiwa jiwa dari dosa dan kebinasaan. Dan oleh sebab itu, dengan sangat senang saya akan pastikan dengan darahku, kebenaran yang telah kutuliskan dan kukhotbahkan." Wylie, b. 3, ch. 7. Ketika api menyala disekelilingnya, ia mulai menyanyi, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku," dan demikianlah seterusnya ia menyanyi sampai suaranya terdiam untuk selamanya.
Musuh musuhnya sendiripun merasa terpukul melihat keperkasaannya. Seorang pengikut paus yang bersemangat, menerangkan kematian Huss dan Jerome, yang mati segera sesudah itu, demikian: "Keduanya mereka menetapkan hati pada waktu saat saat terakhir datang menjelang. Mereka telah bersedia menghadapi api itu seperti mereka menghadapi pesta pernikahan. Mereka tidak mengeluh kesakitan. Ketika nyala api menjulang, mereka menyanyikan nyanyian puji pujian. Dan kehebatan api tidak dapat menghentikan nyanyian mereka." Wylie, b.3, ch. 7.
Setelah tubuh Huss seluruhnya hangus terbakar, maka abunya bersama tanah tempat abu itu, dikumpulkan dan dibuangkan ke Sungai Rhine, yang kemudian dihanyutkan arus ke laut. Para penganiaya membayangkan bahwa mereka telah berhasil membasmi kebenaran yang telah dikhotbahkan Huss. Tidak terbayang bagi mereka bahwa abu jenazah yang dihanyutkan arus ke laut akan menjadi benih yang tersebar keseluruh negeri di dunia ini. Dan bahwa negeri yang belum diketahui itu akan memberikan buah buah yang limpah sebagai saksi kebenaran.
Kata kata yang diucapkan di gedung konsili di Constance telah membahana, dan gaungnya akan terdengar sampai ke masa masa yang akan datang. Huss tidak ada lagi, tetapi kebenaran yang diperjuangkannya dengan kematiannya tidak akan pernah binasa. Teladan iman dan ketetapan hatinya akan mendorong banyak orang untuk berdiri teguh demi kebenaran, dalam menghadapai siksaan dan kematian. Kematiannya telah membeberkan kepada seluruh dunia tentang kekejaman pengkhianatan Roma. Musuh musuh kebenaran, meskipun mereka tidak menyadarinya, telah memajukan kebenaran itu, yang dengan sia sia mereka berusaha memusnahkannya.
Satu lagi tiang gantungan pembakaran akan didirikan di kota Constance. Darah saksi yang lain harus menyaksikan kebenaran itu. Jerome, yang mengucapkan selamat jalan kepada Huss waktu ia pergi untuk menghadiri konsili, telah mendorong semangat dan menguatkan pendirian Huss. Jerome menyatakan akan datang menolongnya jika Huss harus menghadapi bahaya. Setelah mendengar penahanan Pembaharu itu, murid yang setia ini segera menyiapkan diri memenuhi janjinya. Tanpa surat pas jalan ia berangkat ke Constance dengan seorang teman. Setelah tiba di Constance ia merasa pasti bahwa ia hanya membuka dirinya kepada bahaya tanpa adanya kemungkinan bisa berbuat sesuatu untuk melepaskan Huss. Ia melarikan diri dari kota itu, tetapi tertangkap dalam perjalanan pulang. Ia dibawa kembali ke Constance dengan dirantai dan dengan pengawalan sepasukan tentera. Pada penampilan pertama di konsili, dalam usahanya menjawab tuduhan tuduhan yang dilontarkan kepadanya, telah disambut dengan teriakan, "Bakar dia! bakar dia!" Bonnechose, Vol. I, p. 234. Ia dijebloskankan kedalam penjara bawah tanah, dirantai dalam posisi yang menyebabkannya sangat menderita, dan diberi makan roti dan air saja. Setelah beberapa bulan kekejaman yang dilakukan kepada Jerome, ia menderita penyakit yang mengancam nyawanya. Musuh musuhnya takut kalau kalau ia melarikan diri, memperlakukannya tidak sekejam sebelumnya, meskipun ia tetap meringkuk dalam penjara selama setahun.
Kematian Huss tidak berakibat seperti yang diharapkan oleh pengikut pengikut kepausan. Pelanggaran terhadap surat pas jalan telah membangkitkan badai kemarahan. Dan sebagai cara yang lebih aman, konsili memutuskan untuk memaksa Jerome, kalau mungkin, untuk menarik mundur pernyataannya, sebagai ganti membakarnya. Ia dibawa menghadap mahkamah, dan memberikan pilihan untuk menarik kembali pernyataannya, atau mati di tiang gantungan pembakaran. Kematian pada permulaan penahanannya adalah merupakan belas kasihan jika dibandingkan dengan penderitaan hebat yang telah dialaminya. Tetapi sekarang, setelah dilemahkan oleh penyakit, oleh kekakuan penjaranya, dan siksaan kecemasan dan ketegangan, dipisahkan dari teman temannya, dan terpukul oleh kematian Huss, maka keteguhan hati Jeromepun luluhlah sudah. Dan ia setuju untuk menyerah kepada konsili. Ia berjanji kepada dirinya untuk mematuhi imam Katolik, dan menerima tindakan konsili dalam melarang ajaran ajaran Wycliffe dan Huss, namun kecuali "kecuali kebenaran kudus," yang mereka telah ajarkan. Lihat Bonnechose, Vol. II, p. 141.
Dengan cara ini Jerome berusaha untuk mendiamkan suara hati nuraninya dan melepaskan diri dari kebinasannya. Akan tetapi didalam keterasingannya di penjara bawah tanah ia melihat lebih jelas apa yang telah dilakukannya. Ia memikirkan keberanian dan kesetiaan Huss, bertolak belakang dengan penyangkalannya akan kebenaran itu. Ia memikirkan Tuhannya yang kepada Nya ia telah berjanji untuk melayani, dan demi kepentingannya sendiri bersedia menanggung kematian di kayu salib. Sebelum menarik kembali pernyataannya ia memperoleh penghiburan atas semua penderitaannya, dan kepastian memperoleh kasih Allah. Tetapi sekarang, penyesalan yang dalam dan keragu raguan menyiksa jiwanya. Ia tahu bahwa masih banyak penarikan pernyataan yang harus dilakukannya sebelum ia berdamai dengan Roma. Jalan yang sekarang ia lalui bisa berakhir hanya dengan kemurtadan penuh. Akhirnya ia membuat keputusan: ia tidak akan menyangkal Tuhannya hanya untuk kelepasan sementara dari penderitaan.
Kemudian ia dibawa kembali menghadap konsili.Penyerahannya belum memuaskan para hakimnya. Kehausan mereka akan darah yang dirangsang oleh kematian Huss, mendesak mereka untuk mendapatkan korban baru. Hanya dengan penyerahan tanpa syarat kebenaran itu Jerome dapat mempertahankan hidupnya. Tetapi ia telah menetapkan untuk berpegang pada imannya, dan mengikuti jejak saudara martirnya Huss ke pembakaran.
Ia membatalkan penarikan pernyataannya yang sebelumnya. Dan sebagai seorang yang sedang sekarat, dengan sungguh sungguh ia memohon kesempatan untuk memberikan pembelaannya. Takut akan pengaruh kata katanya, para pejabat tinggi gereja bertahan agar ia hanya menguatkan atau menolak kebenaran tuduhan yang dituduhkan kepadanya. Jerome memprotes perlakuan yang begitu kejam dan tidak adil. "Kamu telah menutup saya di penjara yang mengerikan selama tiga ratus empat puluh hari," katanya, "di tengah tengah kekotoran, di dalam ruangan yang pengap dan bau busuk, dan dimana sangat kekurangan segala sesuatu. Dan sekarang kamu membawa saya menghadap dan mendengarkan musuh musuhku , tetapi kamu tidak mau mendengarkan aku . . . . Jikalau kamu benar benar orang bijaksana dan terang dunia ini, hati hatilah jangan berdosa kepada keadilan. Bagiku, aku hanya seorang manusia yang lemah. Hidupku tidak begitu penting. Dan bilamana saya menghimbau kamu agar jangan mengucapkan satupun kalimat yang tidak adil, saya bukan berkata kata untuk diriku, tetapi untuk kamu." Bonnechose, Vol. II, pp. 146, 147.
Akhirnya permohonannya disetujui. Dihadapan hakimnya Jerome berlutut dan berdoa agar Roh ilahi dapat kiranya menguasai pikirannya dan kata katanya, agar ia dapat berbicara dengan tidak bertentangan dengan kebenaran atau yang tidak menghormati Tuhannya. Baginya pada hari itu telah digenapi janji Allah kepada murid murid yang pertama itu: "Karena Aku kamu akan digiring kemuka penguasa penguasa dan raja raja . . . . Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang kamu harus katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang berkata kata di dalam kamu " (Matius 10:18 20.).
Kata kata Jerome menimbulkan keheranan dan kekaguman juga kepada musuh musuhnya. Karena sepanjang tahun ia telah dikurung di dalam penjara bawah tanah, ia tidak bisa membaca bahkan melihat. Ia menanggung penderitaan fisik yang berat dan kecemasan mental. Namun argumen argumennya disampaikan dengan begitu jelas dan dengan kuasa seolah olah ia tidak pernah mengalami gangguan kesempatan belajar. Ia menunjukkan kepada para pendengarnya barisan panjang orang orang kudus yang telah dihukum oleh hakim hakim yang tidak adil. Hampir di setiap generasi terdapat orang orang yang, sementara berusaha mengangkat derajat orang orang pada zamannya, telah dipersalahkan dan dibuang, tetapi yang dikemudian hari ternyata berhak mendapat kehormatan. Kristus sendiri telah dihukum sebagai penjahat oleh pengadilan yang tidak adil.
Pada waktu Jerome menarik kembali pernyataannya, ia setuju dengan keputusan pengadilan yang menghukum mati Huss. Tetapi sekarang ia menyatakan pertobatannya, dan bersaksi mengenai ketidak bersalahan dan kesalehan orang yang mati syahid itu. "Saya mengenal dia sejak masa kanak kanaknya," katanya. "Ia adalah orang yang paling baik, jujur dan saleh. Ia telah dihukum walaupun ia tidak bersalah . . . . Saya juga, saya sudah sedia untuk mati. Saya tidak akan mundur menghadapi siksaan yang telah disediakan bagiku oleh musuh musuhku dan para saksi palsu. Pada suatu hari kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan tipuan mereka di hadirat Allah yang maha agung, yang tak seorangpun bisa menipu." Bonnechose, Vol. II, p. 151.
Dalam penyesalan dirinya sendiri karena menyangkal kebenaran, Jerome selanjutnya berkata, "Dari semua dosa yang aku lakukan sejak masa mudaku, tidak ada yang lebih berat membebani pikiranku dan yang menyebabkanku begitu sangat menyesal, daripada apa yang kulakukan di tempat celaka ini, pada waktu aku menyetujui keputusan yang tidak adil yang dijatuhkan kepada Wycliffe, dan kepada syuhada saleh John Huss, tuanku dan sahabatku. Ya! Aku mengakuinya dari dalam hatiku, dan menyatakan dengan kengerian bahwa aku merasa malu dan takut pada waktu saya mempersalahkan ajaran ajaran mereka oleh karena takut mati. Oleh sebab itu, aku memohon . . . Allah Mahakuasa sudi mengampuni aku dari dosa dosaku, terutama yang satu ini, yang paling mengerikan dari semua." Sambil menunjuk kepada hakimnya, ia berkata dengan tegas, "Kamu telah mempersalahkan Wycliffe dan John Huss, bukan karena menggoncangkan doktrin gereja, tetapi hanya oleh karena mengutuk kejahatan yang dilakukan para pendeta kesombongan dan keangkuhan mereka, dan semua kebusukan para pejabat tinggi gereja dan para imam. Hal hal yang mereka sudah kuatkan, yang tidak dapat dibantah lagi, aku juga berpikir dan mengatakan demikian, seperti mereka."
Kata katanya disela. Para pejabat tinggi gereja gemetar dalam kemarahannya, dan berteriak, "Bukti bukti apa lagi yang diperlukan? Kita telah melihat dengan mata kepala kita sendiri seorang bida'ah yang keras kepala!"
Tanpa terpengaruh oleh keributan itu, Jerome menyerukan, "Apa? Apakah kamu menyangka aku takut mati? Kamu telah mengurung aku dipenjara bawah tanah yang mengerikan setahun penuh, yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri. Kamu telah memperlakukan saya lebih buruk dari orang orang Turki, Yahudi atau orang kafir. Dan dagingku sebenarnya telah membusuk dan terlepas dari tulang tulangku selagi aku masih hidup. Namun begitu, saya tidak mengeluh, karena ratap tangis akan menyakitkan hati dan jiwa. Tetapi aku tak dapat mengutarakan keherananku atas kebiadaban besar seperti itu terhadap seorang Kristen." Bonnechose, Vo. II, pp. 151 153.
Sekali lagi topan amarah menolak, dan Jerome dilarikan kepenjara. Namun ada beberapa orang di dalam mahkamah yang sangat terkesan dengan kata kata Jerome, dan yang ingin untuk meyelamatkan nyawanya. Ia dikunjungi oleh para pejabat tinggi gereja dan mendorongnya untuk menyerahkan dirinya kepada konsili. Hari depan yang paling gemilang telah ditawarkan kepadanya sebagai imbalannya jika ia meninggalkan perlawanannya kepada Roma. Tetapi seperti Tuhannya pada waktu ditawarkan kemuliaan dunia, Jerome tetap teguh menolak.
"Butikanlah kepadaku dari Alkitab bahwa aku ini salah," katanya, "dan aku akan meninggalkannya untuk selama lamanya."
"Alkitab!" seru seorang yang mencobainya, "apakah semuanya harus diadili oleh Alkitab? Siapa yang bisa mengertinya sampai gereja menafsirkannya?
"Apakah tradisi manusia lebih layak untuk dipercaya daripada Injil Juru Selamat kita?" jawab Jerome. " Paulus tidak menasihatkan orang orang yang dikirimi surat untuk mendengarkan tradisi manusia, tetapi katanya, 'Selidiklah Alkitab.'"
"Bida'ah!" teriak seseorang, "Saya menyesal telah membujuk engkau begitu lama. Saya melihat bahwa engkau telah didorong oleh Setan." Wylie, b. 3, ch. 10.
Tidak lama kemudian keputusan hukuman mati dijatuhkan kepadanya. Ia dituntun ke tempat yang sama dimana Huss menyerahkan nyawanya. Sepanjang jalan ia menyanyi, wajahnya bercahaya penuh sukacita dan kedamaian. Pandangannya tertuju kepada Kristus, dan baginya kematian telah kehilangan kengeriannya. Pada waktu petugas, yang hampir menyalakan onggokan kayu api, berjalan dibelakangnya, syuhada itu berkata, "Majulah dengan berani, taruhlah api itu diwajahku. Kalau saya takut saya tidak akan berada di sini."
Kata katanya yang terakhir yang diucapkan sementara nyala api membesar disekelilingnya adalah sebuah doa, "Tuhan Yang Mahakuasa," katanya, "kasihanilah aku, dan ampunilah dosa dosaku, karena Engkau tahu, aku selalu mencintai kebenaran Mu." Bonnechose, Vol II, p. 168. Suaranya lenyap, tetapi bibirnya tetap komat kamit berdoa. Setelah api membakar seluruh tubuhnya, abu syuhada itu bersama tanah tempatnya, dikumpulkan dan, seperti abu jenazah Huss, dibuangkan ke Sungai Rhine.
Demikianlah binasa para pembawa terang Allah yang setia. Tetapi terang kebenaran yang disiarkan mereka, terang teladan keperkasaan mereka tidak bisa dipadamkan. Bagaikan manusia yang paling kuat berusaha menahan peredaran matahari agar matahari fajar tidak menyingsing, tetapi bagaimanapun juga, fajar tetap terbit bagi dunia. Pelaksanaan hukuman mati Huss telah menyulut api kemarahan dan kengerian di Bohemia. Hal itu dirasakan segenap bangsa itu, bahwa ia telah menjadi mangsa kebencian para imam dan pengkhianatan kaisar. Ia dinyatakan sebagai seorang guru kebenaran yang setia, dan konsili yang memutuskan hukuman mati itu dituduh bersalah sebagai pembunuh. Ajaran ajaran Huss sekarang menarik perhatian orang lebih banyak daripada sebelumnya. Atas perintah kepausan tulisan tulisan Wycliffe telah dibakar. Tetapi yang lolos dari pemusnahan sekarang dibawa keluar dari tempat persembunyiannya dan dipelajari bersama Alkitab, atau bagian bagiannya yang bisa didapat. Dan banyaklah yang dituntun menerima iman yang diperbaharui itu.
Para pembunuh Huss tidak tinggal diam dan menyaksikan kemenangan kemenangan Huss. Paus dan kaisar bersatu untuk menumpas gerakan itu, dan tentera Sigismund menyerang Bohemia.
Tetapi bangkit seorang penyelamat. Ziska, yang segera sesudah perang mulai telah menjadi buta sama sekali, namun adalah seorang jenderal yang paling mahir pada zamannya, menjadi pemimpin orang Bohemia. Percaya pada pertolongan Allah dan kebenaran perjuangan mereka, sehingga orang orang dapat menahan tentera musuh yang kuat yang menyerang mereka. Berulang ulang kaisar mengirim tentera baru untuk menyerang Bohemia hanya untuk dipukul mundur secara memalukan. Pengikut pengikut Huss sekarang tidak takut mati, dan tak ada yang tahan melawan mereka. Beberapa tahun setelah perang meletus, Ziska, sipemberani itu wafat. Tetapi tempatnya digantikan oleh Procopius, yang juga adalah seorang jenderal pemberani dan trampil, dan dalam berbagai hal, seorang pemimpin yang lebih berkemampuan.
Musuh musuh orang Bohemia, mengetahui bahwa pejuang yang buta itu telah meninggal, merasa sudah saatnya untuk menebus kekalahan mereka selama ini. Paus mengumumkan perang suci melawan pengikut pengikut Huss. Dan tentera yang besar jumlahnya segera dikirimkan menyerang Bohemia, tetapi hanya untuk menderita kekalahan yang mengerikan. Perang suci lain diumumkan. Disemua negara kepausan di Eropa, tentera, uang dan perlengkapan perang dikumpulkan. Orang banyak berduyun duyun menggabungkan diri kebawah panji panji kepausan. Mereka merasa pasti bahwa akhirnya para bida'ah pengikut Huss akan dapat ditumpas. Dengan keyakinan akan menang, pasukan besar itupun memasuki Bohemia. Orang orang Bohemia bertempur mengusir mereka. Kedua pasukan saling mendekat, sehingga hanya dipisahkan oleh sebuah sungai saja. "Tentera kepausan jauh lebih unggul, tetapi sebagai gantinya mereka langsung menyeberangi sungai utnuk memerangi pengikut pengikut Huss, mereka berdiri memandangi dengan diam prajurit prajurit Huss. Sebenarnya mereka jauh jauh datang hanya untuk memerangi pengikut pengikut Huss ini." Wylie, b. 3, ch. 17. Tiba tiba ketakutan yang misterius melanda pasukan kepausan. Tanpa membuat sesuatu untuk melawan, pasukan yang kuat ini tercerai berai dihalau oleh kekuatan yang tidak kelihatan. Banyak yang disembelih oleh pasukan pengikut pengikut Huss, yang mengejar musuh yang lari itu. Dan banyaklah barang barang rampasan yang jatuh ke tangan pasukan yang menang, sehingga sebagai gantinya, perang itu membuat kemiskinan, justru membuat orang orang Bohemia lebih kaya.
Beberapa tahun kemudian, perang suci yang lain direncanakan dibawah pimpinan paus yang baru. Seperti yang sebelumnya, tentera dan peralatan diambil dari negara negara kepausan di Eropa. Banyaklah janji diberikan untuk membujuk orang orang untuk bergabung kepada pekerjaan yang berbahaya ini. Pengampunan penuh atas kejahatan yang paling keji telah dijanjikan bagi setiap orang tentera kepausan. Semua yang tewas dalam peperangan itu dijanjikan upah besar di Surga dan mereka yang selamat akan memperoleh penghormatan dan kekayaan di medan pertempuran. Sekali lagi pasukan besar telah terkumpul, dan melintasi perbatasan memasuki Bohemia. Pasukan pengikut Huss menggunakan taktik mundur dihadapan pasukan penyerang, sehingga musuh semakin jauh masuk ke negeri itu. Hal ini membuat penyerang mengira bahwa mereka telah memenangkan peperangan. Akhirnya tentera Procopius bertahan dan berbalik menghadapi musuh, maju menyerang mereka. Tentera musuh, menyadari kesalahannya, menunggu serangan diperkemahannya. Sementara suara pasukan yang mendekat terdengar, bahkan sebelum pasukan pengikut Huss terlihat, kembali kepanikan melanda pasukan kepausan. Para pangeran, para jenderal dan tentera biasa membuangkan senjata mereka, lalu lari kesegala pejuru. Sia sia utusan kepausan, yang memimpin penyerangan itu, berusaha untuk mengumpulkan pasukannya yang sudah ketakutan dan kucar kacir tak teratur lagi itu. Walaupun ia berusaha keras, ia sendiripun juga ikut hanyut dalam arus pelarian. Kekalahan itu sempurna. Dan sekali lagi barang barang rampasan yang banyak jatuh ketangan pemenang.
Demikianlah untuk kedua kalinya pasukan yang jumlahnya besar, yang dikirim oleh bangsa bangsa kuat di Eropa, pasukan yang berani yang siap tempur, dan yang dilatih dan diperlengkapi untuk berperang, lari tanpa perlawanan dari hadapan para pembela bangsa yang kecil dan lemah. Disinilah manifestasi kuasa ilahi. Para penyerang telah dipukul mundur dengan teror gaib. Ia yang mengalahkan tentera Firaun di Laut Merah, yang membuat lari tentera Midian dari hadapan Gideon dan pasukannya yang berjumlah tiga ratus orang itu, yang pada suatu malam melumpuhkan pasukan Assur yang angkuh, kembali merentangkan tangan Nya melumpuhkan kekuatan penindas. "Disanalah mereka di timpa kejutan yang besar, padahal tidak ada yang mengejutkan; sebab Allah menghamburkan tulang tulang para pengepungmu; mereka akan dipermalukan, sebab Allah telah menolak mereka" (Mazmur 53:5).
Setelah putus asa tidak berhasil menguasai Bohemia dengan kekuatan senjata, para pemimpin kepausan akhirnya manggunakan saluran saluran diplomasi. Mereka mengadakan kompromi. Sementara mereka mengatakan memberikan kemerdekaan hati nurani kepada Bohemia, tetapi sebenarnya mereka dikhianati untuk masuk kedalam kekuasaan Romawi. Orang orang Bohemia mengajukan empat tuntutan sebagai syarat perdamaiannya dengan Roma: Kebebasan mengkhotbahkan Alkitab; hak seluruh gereja atas roti dan anggur dalam perjamuan kudus dan penggunaan bahasa sendiri dalam perbaktian ilahi; penarikan imam imam dari kuasa dan jabatan pemerintahan; dan dalam hal perkara kejahatan, jurisdiksi pengadilan sipil sama terhadap para pendeta dan orang awam. Penguasa kepausan akhirnya "menyetujui menerima keempat tuntutan pengikut pengikut Huss, akan tetapi hak untuk menjelaskannya, yaitu menentukan makna yang sebenarnya, haruslah menjadi hak konsili dengan perkataan lain, hak paus dan hak kaisar." Atas dasar ini dibuatlah suatu perjanjian. Dengan menyembunyikan tipu muslihatnya dan kecurangannya Roma memperoleh apa yang tidak bisa diperolehnya dengan peperangan, oleh karena, dengan memberikan interpretasinya atas tuntutan pengikut Huss itu, seperti juga atas Alkitab, ia dapat memutar balikkan artinya sesuai dengan maksud dan kemauannya.
Segolongan besar orang di Bohemia, yang melihat bahwa kemerdekaan mereka telah dikhianati, tidak setuju dengan perjanjian itu. Timbullah perselisihan dan perpecahan yang menjurus kepada bentrokan dan pertumpahan darah diantara mereka sendiri. Dalam perselisihan ini bangsawan Procopius jatuh, dan lenyaplah kebebasan Bohemia.
Sigismund, yang mengkhianati Huss dan Jerome, sekarang menjadi raja Bohemia. Dan tanpa mengingat sumpahnya untuk mendukung hak hak orang Bohemia, ia mulai mendirikan kepausan. Tetapi ketakutannya kepada Roma tidak memberi keuntungan banyak baginya. Selama dua puluh tahun kehidupannya telah dipenuhi dengan kerja keras dan bahaya. Balatenteranya dikalahkan dan hartanya habis terkuras oleh perjuangan yang lama dan yang tak membawa hasil. Dan sekarang, setelah ia memerintah selama setahun iapun mangkat, meninggalkan kerajaannya ditepi jurang perang saudara, dan mewariskan kepada generasi yang akan datang suatu nama kekejian.
Kerusuhan, perselisihan, dan pertumpahan darah berkepanjangan. Sekali lagi pasukan dari luar menyerang Bohemia, dan perselisihan di dalam negeri berlanjut mengalihkan perhatian bangsa itu. Mereka yang tetap setia kepada Injil dihadapkan kepada penganiayaan berdarah.
Sementara saudara saudara mereka yang terdahulu, mengadakan perjanjian dengan Roma, dan menelan keksalahannya, mereka yang memberi perhatian kepada iman yang mula mula itu membentuk suatu gereja yang berbeda sifatnya, yang diberi nama, "United Brethren" (Perserikatan Saudara saudara). Tindakan ini mengundang kutukan dari semua golongan kepada mereka. Namun, mereka tidak dapat digoyahkan. Meskipun terpaksa mencari perlindungan di hutan hutan dan di gua gua, mereka masih tetap berkumpul untuk membaca firman Allah dan bersatu dan berbakti bersama kepada Tuhan.
Melalui pesuruh pesuruh yang dikirim secara rahasia keberbagai negeri, mereka mengetahui bahwa disana sini terdapat "saksi saksi kebenaran yang terpisah pisah, sedikit di kota ini dan sedikit disana yang menjadi sasaran penganiayaan seperti mereka. Dan ditengah tengah pegunungan Alpen ada gereja tua, yang beralaskan Alkitab, dan yang memprotes kebejatan moral Roma." Wylie, b. 3, ch. 19. Pesuruh pesuruh intel ini telah diterima dengan sukacita yang besar, dan surat menyuratpun diadakan dengan orang Kristen Waldenses.
Sambil tetap teguh berpegang kepada Injil, orang orang Bohemia menunggu sepanjang malam penganiayaa mereka. Di malam yang paling gelap mereka masih mengalihkan matanya ke ufuk timur seperti orang orang yang sedang menantikan terbitnya matahari pagi. "Mereka mengalami nasib buruk pada hari hari yang jahat, tetapi . . . mereka mengingat kata kata yang diucapkan oleh Huss, dan yang diulangi oleh Jerome, bahwa seabad harus berlalu sebelum fajar menyingsing. Kata kata ini ditujukan kepada bangsa bangsa didalam perhambaan: 'Saya akan mati, dan Allah pasti akan melawat kamu, dan membawa kamu keluar.' " Idem, b. 3, ch. 19. "Selama masa penutupan abad ke lima belas terlihat perkembangan yang lambat tetapi pasti gereja Brethren. Walaupun tidak jauh dari gangguan, namun mereka masih mengalami kedamaian yang sebanding. Pada permulaan abad ke enambelas, gereja mereka telah berjumlah dua ratus gereja di Bohemia dan Moravia." Gillett, "Life and Times of John Huss," (3d ed.), Vol. II, p. 570. "Betapa bersukacitanya perasaan umat yang sisa, yang terlepas dari keganasan api dan pedang, melihat terbitnya fajar yang telah diramalkan oleh Huss." Wylie, b. 3, ch.19.
Sebelum zamannya Huss, ada orang orang di Bohemia yang bangkit mempersalahkan dengan terang terangan kebejatan di dalam gereja dan kemerosotan moral orang orang. Usaha mereka itu membangkitkan perhatian dikalangan paus. Timbullah kekuatiran hirarki, dan penganiayaanpun dilakukan ke atas murid murid Injil itu. Mereka diusir ke hutan hutan dan ke gunung gunung dimana mereka mengadakan perbaktian. Mereka diburu oleh tentera dan banyak yang dibunuh. Setelah beberapa lama dikeluarkanlah dekrit bahwa semua yang berpaling dari perbaktian Romaisme harus dibakar. Akan tetapi sementara orang orang Kristen menyerahkan hidup mereka, mereka mengharapkan kepada kemenangan jauh dihadapan mereka. Salah seorang dari mereka yang "mengajarkan bahwa keselamatan hanya didapat oleh iman dalam Juru Selamat yang telah disalibkan itu," mengatakan waktu mau meninggal, "Kemarahan musuh musuh kebenaran sekarang leluasa melawan kita, tetapi itu tidak akan berlangsung selama lamanya. Akan ada seseorang yang bangkit dari orang orang biasa, tanpa pedang dan kekuasaan; dan melawan dia mereka tidak akan bisa sewenang wenang." Wylie, b. 3, ch. 1. Zamannya Luther masih jauh di depan. Tetapi telah bangkit seseorang, yang kesaksiannya melawan Roma akan menggemparkan bangsa bangsa.
John Huss dilahirkan sebagai orang yang hina, dan secara dini telah menjadi anak yatim karena ditinggal mati ayahnya. Ibunya yang saleh, yang menganggap pendidikan dan takut akan Allah sebagai harta milik paling berharga, berusaha membuat ini sebagai warisan bagi anaknya. Huss belajar di sekolah propinsi, kemudian melanjutkan ke universitas di Praha yang diterima sebagai mahasiswa amal, tenpa membayar. Ia disertai ibunya dalam perjalanan ke Praha. Sebagai seorang janda miskin ia tak mempunyai sesuatu harta dunia yang bisa diberikan kepada anaknya. Tetapi sementara mereka semakin dekat ke kota besar itu, ibunya berlutut di samping pemuda yang tidak berayah ini, dan memohon berkat Bapa Surgawi baginya. Ibu tidak begitu menyadari bagaimana doanya itu akan dijawab.
Di universitas itu Huss segera menonjol karena ketekunannya yang tak mengenal lelah dan kemajuannya yang pesat, sementara kehidupannya yang tidak bercacad dan kelemah lembutannya, dan kelakuannya yang baik memberikan kepadanya penghargaan universal. Ia adalah seorang penganut Gereja Roma yang sungguh sungguh, dan seorang yang sungguh sungguh mencari berkat berkat rohani yang dijanjikan akan diberi. Pada suatu perayaan jubileum, ia mengadakan pengakuan dosa, membayarkan uangnya yang terakhir, dan mengikuti arak arakan agar mudah mudahan mendapat bagian pengampunan yang dijanjikan. Setelah ia menyelesaikan pendidikan tinggi, ia memasuki keimamatan, dan dengan segera memperoleh kedudukan yang tinggi. Ia segera bertugas di istana raja. Ia juga diangkat menjadi profesor dan kemudian menjadi rektor universitas dimana ia dulu memperoleh pendidikannya. Dalam beberapa tahun saja, mahasiswa amal yang hina ini telah menjadi kebanggaan negaranya, dan namanya telah terkenal di seluruh Eropa.
Tetapi Huss memulai pekerjaan pembaharuan dalam bidang lain. Beberapa tahun setelah ia menjadi imam, ia ditunjuk sebagai pengkhotbah di kapel Betlehem. Pendiri kapel ini telah melakukan pengkhotbahan Alkitab dalam bahasa masyarakat setempat, sebagai sesuatu yang sangat penting. Walaupun Roma menentang tindakan seperti itu, belum sepenuhnya dihentikan di Bohemia. Tetapi mereka sangat buta mengenai Alkitab, dan kejahatan merajalela disemua lapisan masyarakat. Kejahatan ini sangat dicela oleh Huss, dan menghimbau untuk memperhatikan firman Allah dan menjalankan prinsip prinsip kebenaran dan kesucian yang ia telah ajarkan berulang ulang.
Seorang warga Praha yang bernama Jerome, yang kemudian begitu dekat berhubungan dengan Huss, telah membawa tulisan tulisan Wycliffe pada waktu ia kembali dari Inggeris. Ratu Inggeris, yang telah bertobat kepada pengajaran Wycliffe, adalah putri Bohemia. Dan melalui pengaruhnya juga pekerjaan Reformasi itu telah disebarkan secara luas di negara asalnya. Tulisan tulisan itu dipelajari oleh Huss dengan minat yang besar. Ia percaya pengarang tulisan tulisan itu adalah seorang Kristen yang sungguh sungguh, sehingga ia cenderung mengakui pembaharuan pembaharuan yang dilancarkannya. Huss sebenarnya telah memasuki suatu jalan yang membawanya jauh dari Roma, walaupun ia tidak menyadarinya.
Pada waktu itu ada dua orang orang asing yang baru tiba di Praha dari Inggeris. Orang orang itu adalah orang orang terpelajar, yang telah menerima terang. Mereka datang untuk menyebarkan terang di negeri itu. Mereka memulai dengan serangan terbuka terhadap supremasi paus, dan oleh karena itu mereka segera dibungkam oleh para penguasa. Tetapi oleh karena mereka tidak mau membatalkan niatnya, maka mereka terpaksa mencari cara lain. Oleh karena mereka adalah artis artis yang sekali gus pengkhotbah, mereka mulai menggunakan kemahiran mereka. Di suatu tempat yang terbuka untuk umum mereka melukis dua gambar. Yang satu menggambarkan Kristus memasuki Yerusalem, "lemah lembut dan mengenderai seekor keledai" (Matius 1: 5), dan diikuti oleh murid murid Nya dengan pakaian yang sudah kumal dan dengan kaki telanjang. Lukisan yang satu lagi menggambarkan prosesi kepausan paus berhias diri dengan jubah yang mewah dan dengan mahkota tiga tingkat, duduk di atas kuda yang dihiasi dengan agungnya, yang didahului oleh peniup sangkakala dan diikuti oleh para kardinal dan pejabat pejabat tinggi agama dalam suatu kemegahan.
Ini merupakan suatu khotbah yang menarik perhatian semua golongan. Orang ramai berkerumun melihat lukisan itu. Tak seorangpun yang gagal membaca makna moral lukisan itu, bahkan banyak yang terkesan secara mendalam oleh perbedaan menyolok antara kelemah lembutan dan kerendahan hati Kritus, Tuhan itu, dengan kesombongan dan keangkuhan paus, yang mengatakan dirinya hamba Kristus. Terjadilah keributan di Praha. Dan demi keselamatan mereka, kedua orang asing itu merasa perlu untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi pelajaran yang mereka telah ajarkan tidak dilupakan. Lukisan itu memberikan kesan mendalam dalam pikiran Huss, sehingga menuntun dia untuk mempelajari Alkitab dan tulisan tulisan Wycliffe lebih teliti. Meskipun pada waktu itu ia belum siap untuk menerima semua pembaharuan yang dicetuskan oleh Wycliffe, ia melihat semakin jelas tabiat kepausan. Dan dengan semangat yang lebih besar ia mencela kesombongan, ambisi dan kebejatan moral para hirarki.
Dari Bohemia terang itu meluas ke Jerman, karena gangguan yang terjadi di Universitas Praha menyebabkan ratusan mahasiswa Jerman ditarik dari sana. Banyak dari antara mereka telah menerima pengetahuan pendahuluan Alkitab dari Huss. Dan pada waktu mereka kembali, mereka menyiarkan Injil itu di negeri mereka.
Berita mengenai pekerjaan di Praha telah sampai ke Roma. Dan Huss dipanggil untuk menghadap paus di Roma. Memenuhi panggilan seperti itu berarti Huss membuka diri kepada kematian. Raja dan ratu Bohemia, universitas, kaum bangsawan dan pejabat pejabat pemerintah bersatu untuk mengajukan suatu permohonan kepada paus, agar Huss diizinkan tetap tinggal di Praha, dan memberikan jawaban di Roma melalui wakil atau utusan. Gantinya memenuhi permintaan itu paus melanjutkan mengadili dan menghukum Huss dan menyatakan Praha sebagai kota terlarang (tidak boleh mengadakan upacara kudus sakramen). Pada masa itu hukuman seperti ini, bila diumumkan, akan menimbulkan kegemparan dan ketakutan. Upacara yang diadakan bersamaan dengan pengumuman disesuaikan benar untuk menimbulkan teror kepada seseorang yang memandang paus sebagai wakil Allah sendiri, yang memegang anak kunci surga dan neraka, dan mempunyai kuasa untuk mengadakan pengadilan duniawi maupun rohani. Dipercayi bahwa pintu surga telah tertutup bagi daerah yang dinyatakan terlarang, sehingga orang orang mati di daerah yang terlarang seperti itu tidak akan masuk ke tempat yang berbahagia sampai paus dengan senang hati mencabut larangan itu. Sebagai tanda bencana yang mengerikan ini, semua upacara agama dihentikan. Gereja gereja ditutup. Upacara pernikahan dilaksanakan di halaman gereja saja. Orang orang mati dilarang dikuburkan di tempat pemakaman yang telah ditahbiskan. Mereka dikuburkan di parit parit atau di ladang ladang tanpa upacara penguburan. Dengan demikian, oleh hal hal yang menarik kepada imaginasi orang orang, Roma berusaha menguasai hati nurani manusia.
Kota Praha dipenuhi kegemparan dan kekacauan. Sebagian besar menuduh Huss sebagai penyebab dari semua malapetaka ini dan menuntut agar ia menyerah saja kepada tindakan balas dendam Roma. Untuk menenangkan gejolak tersebut, untuk sementara Pembaharu itu mengundurkan diri ke kampung halamannya. Ia menulis kepada teman temannya di Praha, "Jika saya mengundurkan diri dari tengah tengah Anda sekalian, adalah mengikuti ajaran dan teladan Yesus Kristus, untuk memberikan kesempatan kepada orang orang yang sudah sakit pikiran mengambil bagi dirinya hukuman yang kekal, dan agar supaya jangan menjadi penyebab kepicikan dan penganiayaan bagi orang orang saleh. Saya juga mengasingkan diri dengan pengertian agar imam imam yang tidak saleh itu boleh terus melarang pengkhotbahan firman Allah lebih lama di tengah tengah kamu. Tetapi saya tidak membebaskan kamu untuk menyangkal kebenaran ilahi, untuk mana, dengan pertolongan ilahi, saya bersedia mati." Bonnechose, "The Reformers before the Reformation," Vol. I, p. 87, (ed.1844). Huss tidak berhenti beusaha. Ia menjelajahi negeri negeri disekitarnya, berkhotbah kepada orang orang yang berminat mendengar. Dengan demikian usaha usaha yang dimaksudkan paus untuk menekan penyebaran Injil itu, justru menyebabkan lebih luas menyebar. "Karena kami tidak dapat berbuat apa apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran" (2 Kor. 13:8). "Sampai sejauh ini dalam karirnya, pikiran Huss tampaknya dipenuhi oleh pertentangan yang sengit. Meskipun gereja menyerang dia bagaikan petir, tetapi ia tidak menyangkal kekuasan gereja itu. Baginya Gereja Roma masih tetap isteri Kristus, dan paus adalah utusan dan wakil Allah. Yang ditentang oleh Huss ialah penyalah gunaan kekuasaan, bukan prinsipnya. Hal ini membawa pertentangan besar antara keyakinan pengertiannya dengan tuntutan hati nuraninya. Jikalau kekuasaan itu benar dan mutlak, sebagaimana yang dipercayainya demikian, bagaimana mungkin sampai ia merasa terpaksa untuk menolaknya? Ia melihat, bahwa menuruti kuasa itu berarti dosa. Tetapi mengapa penurutan kepada gereja yang mutlak seperti itu menuntun kepada masalah? Inilah masalah yang tidak bisa dipecahkannya. Inilah keragu raguan yang menyiksanya setiap saat. Penyesuaian yang paling mungkin, yang bisa dilakukannya, ialah bahwa hal itu terjadi lagi, sebagaimana pernah terjadi pada zaman Juru Selamat. Imam imam gereja telah menjadi jahat dan menggunakan wewenangnya yang legal untuk sesuatu hasil yang tidak legal. Ini menuntunnya untuk mengambil satu pedoman bagi dirinya, dan mengkhotbahkan kepada orang orang lain, bahwa peribahasa ajaran Alkitab yang disampaikan melalui pengertian, itulah yang mengendalikan hati nurani. Dengan perkataan lain, bahwa Allah berbicara di dalam Alkitab, dan bukan gereja berbicara melalui imam imam. Inilah penuntun yang mutlak." Wylie, b. 3, ch. 2.
Bilamana pada suatu waktu kegemparan di Praha telah reda, maka Huss kembali kekapelnya di Betlehem, untuk meneruskan mengkhotbahkan firman Allah dengan lebih berani dan lebih bersemangat. Musuh musuhnya terus aktif dan kuat, tetapi ratu dan beberapa orang bangsawan adalah teman temannya, dan banyak orang memihak kepadanya. Dengan membandingkan pengajarannya yang murni dan yang mengangkat jiwa serta kehidupannya yang kudus, dengan dogma dogma yang menurunkan martabat yang diajarkan oleh pengikut pengikut Gereja Roma dan keserakahan dan kerakusan yang dilakukan mereka, banyaklah yang merasa suatu kehormatan kalau berpihak kepada Huss.
Sampai sejauh ini Huss masih sendirian dalam pekerjaannya. Tetapi sekarang Jerome, yang pada waktu di Inggeris telah menerima pengajaran Wycliffe, menggabungkan diri kepada pekerjaan pembaharuan (reformasi). Sejak waktu itu keduanya bersatu didalam hidup, dan dalam kematianpun mereka tidak mau dipisahkan. Jerome mempunyai kecerdasan dan kepintaran yang menonjol, kebolehan kebolehan yang membuat seseorang mudah populer. Tetapi dalam kualitas yang membentuk kekuatan tabiat yang sebenarnya, Huss lebih unggul. Pertimbangannya yang tenang dapat menjadi pengekang kepada semangat Jerome yang suka meledak ledak, yang dengan kerendahan hati, menerima kata kata dan nasihatnya. Dengan usaha mereka yang bersatu, pekerjaan pembaharuan itu lebih cepat berkembang.
Allah membiarkan terang yang besar bersinar ke dalam pikiran orang orang piliha ini, menyatakan kepada mereka kesalahan kesalahan Roma yang banyak. Tetapi mereka tidak menerima semua terang yang harus diberikan kepada dunia ini. Melalui hamba hambanya ini Allah telah menuntun orang orang keluar dari kegelapan Romanisme. Tetapi banyak dan besarlah rintangan yang mereka hadapi. Dan Tuhan memimpin mereka terus langkah demi langkah didalam pekerjaannya sebagaimana yang sanggup mereka pikul. Mereka tidak dipersiapkan untuk menerima semua terang itu sekali gus. Seperti kemuliaan sinar matahari pada waktu tengah hari kepada orang orang yang sudah lama tinggal di dalam kegelapan, jika diberikan dengan serta merta, akan menyebabkan mereka meninggalkan kebenaran itu. Itulah sebabnya, Allah menyatakannya sedikit demi sedikit kepada para pemimpin, sebagaimana kesanggupan orang orang menerimanya. Dari abad ke abad, pekerja pekerja yang setia susul menyusul menuntun orang orang lebih jauh kedalam jalan pembaharuan.
Perpecahan dalam gereja masih terus berlangsung. Sekarang tiga orang paus bersaing untuk mendapatkan supremasi, dan persaingan mereka itu memenuhi dunia Kekristenan dengan kejahatan dan keributan. Tidak puas dengan saling mengutuk, mereka juga menggunakan senjata. Masing masing membeli senjata dan membentuk pasukan tentera. Sudah barang tentu mereka memerlukan uang untuk ini. Dan untuk memperoleh uang mereka menjual hadiah hadiah, jabatan dan berkat berkat gereja (Lihat Lampiran). Para imam juga meniru atasan mereka, memperjual belikan pangkat gereja dan berperang menjatuhkan martabat lawan dan memperkuat kekuasaan sendiri. Dengan keberanian yang semakin bertambah setiap hari, Huss mencela kekejian yang dilakukan dengan kedok agama. Dan orang orang menuduh para pemimpin Roma sebagai penyebab penderitaan yang menimpa dunia Kekristenan.
Sekali lagi kota Praha nampaknya berada di tepi jurang pertikaian berdarah. Seperti pada zaman zaman dahulu, hamba hamba Allah dituduh sebagai "yang mencelakakan Israel" ( 1 Raja raja 18:17). Kota itu sekali lagi dinyatakan sebagai kota terlarang, dan Huss mengundurkan diri ke kampung halamannya. Berakhirlah sudah kesaksian setia yang keluar dari kapelnya di Betlehem. Ia akan berbicara dari podium yang lebih luas kepada semua dunia Kekristenan, sebelum menyerahkan nyawanya sebagai saksi kebenaran.
Untuk mengatasi kejahatan kejahatan yang mengganggu Eropa, maka diadakanlah konsili umum di Constance. Konsili itu diadakan atas kemauan kaisar Sigismund, oleh salah seorang paus yang bersaing, Yohanes XIII. Sebenarnya Paus Yohanes tidak menyukai diadakannya konsili itu oleh karena tabiat pribadinya dan kebijaksanaannya tidak tahan pemeriksaan, baik oleh pejabat pejabat tinggi gereja, yang kurang bermoral sebagaimana juga para anggota gereja pada masa itu. Namun, ia tidak berani melawan keinginan kaisar Sigismund. (lihat Lampiran).
Tujuan utama yang hendak dicapai konsili itu ialah untuk memulihkan perpecahan didalam gereja, dan untuk membasmi bida'ah atau aliran yang menyimpang. Oleh karena itu kedua orang yang anti paus telah dipanggil menghadap serta propagandis utama pemikiran pemikiran baru John Huss. Kedua orang anti paus tidak mau menghadap oleh karena alasan keselamatan, tetapi mengirim utusannya untuk mewakili. Paus Yohanes, sementara berpura pura sebagai seorang yang mengadakan konsili itu, ia datang dengan keragu raguan, menduga bahwa kaisar berencan secara diam diam untuk menggulingkannya. Ia takut diminta pertanggungan jawab atas kejahatan kejahatan yang merendahkan mahkota kepausan, serta kejahatan kejahatan yang telah dilakuka untuk mendapatkannya. Namun begitu ia memasuki kota Constance dengan suatu kebesaran dan keagungan disertai para pendeta golongan atas dan diikuti oleh iring iringan panjang pegawai tinggi istana. Semua pendeta dan para pejabat kota bersama kerumunan massa keluar menyambut dan mengelu elukan dia. Di atas kepalanya terbentang penutup singgasana keemasan yang diusung oleh empat orang pejabat tinggi. Roti Suci dibawa dihadapannya, dan kemegahan pakaian para kardinal dan para bangsawan membuat suatu pameran yang mengagumkan.
Sementara itu seorang lain yang mengadakan perjalanan juga sedang mendekati kota Constance. Huss sadar akan bahaya yang mengancam dia. Ia berpisah dengan teman temannya, seolah olah ia tidak akan pernah melihat mereka lagi. Dan ia menjalani perjalanannya dengan perasaan seolah olah berjalan menuju tiang gantungan. Walaupun ia telah mendapatkan surat pas jalan dari raja Bohemia dan kaisar Sigismund untuk perjalanannya ini, ia telah mengatur sedemikian rupa oleh karena kemungkinan kematiannya.
Dalam sebuah suratnya yang ditujukan kepada teman temannya di Praha ia berkata, "Saudara saudaraku, . . . Saya pergi dengan surat pas jalan dari raja, untuk menemui musuh musuh saya yang banyak . . . . Saya menaruh kepercayaan penuh pada kuasa Allah, pada Juru Selamatku; saya percaya bahwa Ia akan mendengarkan doamu yang sungguh sungguh, agar Dia memasukkan kebijaksanaan Nya dan akal budi Nya kedalam mulutku, agar supaya saya boleh bertahan terhadap mereka. Dan agar Dia memberikan Roh Suci Nya untuk menguatkan aku didalam kebenaran Nya, agar supaya saya dapat menghadapi dengan berani segala pencobaan dan penjara, dan jikalau perlu, kematian yang kejam. Yesus Kristus menderita untuk semua yang dikasihi Nya, dan oleh sebab itu bukankah kita patut bergembira karena Ia telah memberikan teladan Nya bagi kita, agar supaya kita tabah menanggung segala sesuatu demi keselamatan kita? Ia adalah Allah, dan kita adalah makhluk Nya. Ia adalah Tuhan, dan kita adalah hamba hamba Nya. Ia adalah Tuhan dunia ini, dan kita adalah manusia berdosa yang hina dan keji namun Dia telah menderita untuk kita! Kalau begitu, mengapa kita juga tidak menderita, terutama kalau penderitaan itu bagi kita adalah penyucian? Oleh sebab itu, Saudara saudara yang kekasih, jikalau kematianku untuk kemuliaan Nya, berdoalah supaya kematian itu cepat datang, dan agar Dia menyanggupkan aku menanggung semua malapetaka dengan keteguhan hati. Akan tetapi jika adalah lebih baik aku kembali ke tengah tengah kamu, baiklah kita berdoa kepada Allah agar aku boleh kembali tanpa noda, yaitu, agar aku jangan menyembunyikan satupun kebenaran Injil, agar aku dapat meninggalkan suatu teladan bagi saudara saudaraku untuk diikuti. Oleh sebab itu, mungkin Saudara saudara tidak akan memandang mukaku lagi di Praha. Tetapi jika menjadi kehendak Allah yang maha kuasa berkenan mengembalikan aku kepada kamu, marilah kita maju terus dengan hati yang semakin teguh dalam pengetahuan dan kecintaan kepada hukum Nya." Bonnechose, Vol. I, pp. 147,148.
Dalam surat lain, kepada seorang imam yang telah menjadi murid Injil, Huss berbicara dengan kerendahan hati yang mendalam mengenai kesalahan kesalahannya sendiri, menuduh dirinya sendiri, "telah menikmati kesenangan dalam memakai pakaian yang mewah, dan telah menghabiskan waktu dalam pekerjaan yang sia sia." Lalu ia menambahkan nasihat yang menyentuh hati ini: "Biarlah kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa jiwa menempati pikiranmu, dan bukan kedudukan dan harta kekayaan. Berhati hatilah, jangan menghiasi rumahmu melebihi jiwamu. Dan diatas segalanya, berikanlah perhatianmu kepada pembangunan kerohanian. Berlakulah saleh dan rendah hati kepada orang miskin, dan jangan menghabiskan hartamu dalam pesta pora. Jikalau engkau tidak mengubah kehidupanmu dan berhenti dari segala yang berlebihan, saya khawatir bahwa engkau akan dihukum seperti saya ini . . . . Engkau mengetahui ajaranku, karena engkau telah menerima petunjukku sejak dari masa kanak kanakmu. Oleh sebab itu tidak ada gunanya bagiku menulis kepadamu lebih jauh. Tetapi saya meminta kepadamu, oleh rahmat Tuhan kita, agar tidak meniruku dalam kesombongan yang sia sia, kedalam mana engkau saksikan aku jatuh." Pada sampul suratnya itu ia menambahkan, "Saya menghimbaumu, Saudaraku, jangan membuka surat ini sampai engkau sudah mendapat kepastian bahwa saya sudah mati." Bonnechose, Vol. I, pp. 148,149.
Dalam perjalanannya, Huss melihat dimana mana tanda tanda tersebarnya ajaran ajarannya, dan dukungan demi perkembangan ajaran itu. Orang orang berduyun duyun menemuinya, dan di beberapa kota pejabat pejabat menyambutnya di jalan jalan mereka.
Setelah tiba di Constance, Huss diberikan kekebasan penuh. Kepada surat pas jalan yang diberikan oleh kaisar telah ditambahkan jaminan perlindungan pribadi oleh paus. Tetapi pelanggaran kepada deklarasi yang sungguh sungguh dan diulang ulang ini, menyebabkan Pembaharu itu ditangkap dalam waktu singkat, atas perintah paus dan para kardinal, dan menjebloskannya kedalam penjara bawah tanah yang menjijikkan. Kemudian dipindahkan ke kastil yang kokoh di seberang Rhine sebagai tawanan. Tidak berapa lama kemudian, paus, oleh karena pengkhianatannya telah dijebloskan kedalam penjara yang sama. Lihat Idem, p. 247. Dihadapan konsili, ia telah terbukti melakukan kejahatan yang paling mendasar, disamping pembunuhan, memperjual belikan kedudukan gereja dan perzinahan, "dosa dosa yang tidak pantas disebut namanya." Jadi konsili mengeluarkan pernyataan; dan demikianlah akhirnya mahkota dicopot dari padanya, dan ia dijebloskan kedalam penjara. Orang orang yang anti paus juga dicopot dan paus barupun dipilih.
Meskipun paus sendiri telah melakukan kesalahan yang lebih besar daripada yang pernah dituduhkan Huss kepada para imam, dan untuk itu ia menuntut diadakan reformasi, namun konsili yang sama yang menurunkan martabat paus, juga meneruskan menumpas Pembaharu. Dengan dipenjarakannya Huss telah menimbulkan kemarahan di Bohemia. Kaum bangsawan yang berkuasa mengajukan protes keras kepada konsili menentang perbuatan biadab itu. Kaisar, yang tidak suka mengizinkan pelanggaran ini kepada surat pas jalan yang diberikannya, menentang tindakan yang dilakukan kepada Huss. Tetapi musuh musuh Pembaharu begitu ganas dan bersikeras. Mereka memohon perhatian raja mengenai prasangkanya, ketakutannya dan semangatnya terhadap gereja. Mereka mengajukan argumentasi yang panjang lebar untuk membuktikan bahwa "iman tidak boleh dipelihara dengan bida'ah atau orang orang yang dicurigai menganut kepercayaan yang menyimpang, walaupun mereka dilengkapi dengan surat surat pas jalan dari kaisar atau raja raja." Lenfant, "History of the Councils of Constance," Vol. I, p. 516. Maka dengan demikian merekapun berhasil.
Dilemahkan oleh penyakit dan penahanannya didalam penjara bawah tanah yang lembab dengan udara yang bau busuk, telah menyebabkan ia menderita demam yang nyaris mengakhiri hidupnya. Akhirnya Huss dihadapkan kedepan konsili. Dibebani dengan rantai rantai, ia berdiri dihadapan kaisar yang mulia dan yang mempunyai iman yang baik, yang telah berjanji melindunginya. Selama pemeriksaannya yang memakan waktu lama, dengan teguh ia mempertahankan kebenaran, dan di hadapan perkumpulan para pejabat tinggi gereja dan negara ia mengeluarkan protes yang sungguh sungguh dan jujur menentang kebejatan para hirarki.
Rahmat Allah mendukung dia. Selama minggu minggu yang telah berlalu sebelum keputusan terakhirnya, damai Surga memenuhi jiwanya. "Saya menulis surat ini," katanya kepada seorang temannya, "di dalam ruang penjara saya, dan dengan tangan saya yang terbelenggu, menanti pelaksanaan hukuman mati saya besok . . . . Bilamana, dengan pertolongan Yesus Kristus, kita kan bertemu lagi dikedamaian kehidupan yang akan datang, engkau akan tahu bagaimana Allah yang berbelas kasihan itu telah ditunjukkan Nya sendiri kepadaku, dan betapa besar pertolongan Nya kepadaku dalam pencobaan dan pengadilanku." Bonnechose, Vol. II, p. 67.
Didalam kegelapan penjara ia melihat kemenangan iman yang benar. Dalam mimpi ia kembali ke kapel di Praha dimana ia mengkhotbahkan Injil, ia melihat paus dan para uskupnya menghapus gambar Kristus yang telah dilukisnya di dinding kapel itu. "Penglihatan ini menyusahkan hatinya, tetapi hari berikutnya ia melihat banyak pelukis melukis kembali gambar itu dalam jumlah yang lebih besar dan dengan warna yang lebih terang. Segera setelah tugas mereka selesai, para pelukis itu, yang telah dikelilingi oleh banyak sekali orang, berseru, 'Sekarang biarlah para paus dan para uskup datang. Mereka tidak akan pernah lagi bisa menghapus gambar itu!' " Pembaharu itu berkata pada waktu ia menghubungkan mimpinya, "Saya merasa pasti, bahwa gambar Kristus tidak akan pernah dihapus. Mereka ingin memusnahkannya, tetapi akan dilukis baru di dalam semua hati oleh para pengkhotbah yang jauh lebih baik dari saya." D'Aubigne, b. 1, ch.6.
Untuk terakhir kalinya, Huss dibawa kembali kehadapan konsili. Mahkamah sekali ini adalah mahkamah yang brilian dan luas dihadiri oleh kaisar, para pangeran kerajaan, para deputi kerajaan, para kardinal, uskup uskup dan imam imam; dan orang banyak yang datang sebagai penonton kejadian hari itu. Dari seluruh dunia Kekristenan telah berkumpul untuk menyaksikan korban besar yang pertama ini yang telah lama memperjuangkan kebebasan hati nurani.
Setelah dipanggil untuk mendengarkan keputusan terakhir, Huss menyatakan penolakannya untuk menyangkal keyakinannya, dan sambil menujukan pandangannya yang tajam kepada kaisar yang kata kata janjinya telah dilanggar dengan tidak mengenal malu, ia mengatakan, "Saya memutuskan atas kemauan saya sendiri, untuk hadir dihadapan konsili ini dibawah perlindungan umum dan jaminan keelamatan kaisar yang hadir di sini." Bonnechose, Vol. II, p. 84. Wajah kaisar Sigismund menjdi merah padam pada waktu semua mata orang yang hadir di mahkamah itu memandang kepadanya.
Keputusan telah diumumkan, upacara penurunan pangkatpun dimulai. Para uskup mengganti pakaiannya dan memakaikan pakaian keimamatan. Dan pada waktu ia mengenakan pakaian keimamatan itu, ia berkata, "Tuhan kita Yesus Kristus telah dibungkus dengan kain putih sebagai penghinaan, pada waktu Herodes memerintahkan menghadapkannya kepada Pilatus." Bonnechose, Vol. II, p. 86. Pada waktu sekali lagi ia diminta untuk menarik kembali pernyataannya, ia menjawab sambil berbalik kepada orang banyak, "Lalu dengan muka apa saya harus memandang Surga? Bagaimana saya melihat orang banyak itu kepada siapa saya sudah khotbahkan Injil yang sejati? Tidak. Saya lebih menghargai keselamatan mereka daripada tubuh saya yang hina ini, yang sekarang telah diputuskan untuk dibunuh." Pakaiannya ditanggalkan satu persatu; setiap uskup mengatakan kata kata kutukan sementara mereka melakukan tugasnya dalam upacara itu. Akhirnya, "mereka mengenakan diatas kepalanya sebuah topi atau semacam topi yang dipakai oleh uskup dalam upacara, yang berbentuk piramida dan terbuat dari kertas. Dikertas itu dilukiskan gambar gambar Setan dengan kata kata, 'Kepala Bida'ah,' dituliskan dengan menyolok dibagian depan. 'Sangat senang' kata Huss, 'akan saya pakaikah mahkota yang memalukan ini demi Engkau, O, Yesus, yang telah mengenakan mahkota duri untukku?'"
Setelah itu, "para pejabat tinggi gereja berkata, 'Sekarang kami serahkan jiwamu kepada Setan.' 'Dan aku,' kata John Huss, dengan menengadah kelangit, 'menyerahkan rohku kedalam tangan Mu, O, Tuhan Yesus, oleh karena Engkau telah menebus aku.'" Wylie, b. 3, ch. 7.
Sekarang ia diserahkan kepada pejabat pejabat pemerintah, dan dibawa ketempat pelaksanaan hukuman mati. Suatu arak arakan besar mengikuti dia, ratusan orang bersenjata, para imam dan para uskup dengan berpakaian yang mahal mahal, dan penduduk kota Constance. Pada waktu ia diikat ketiang gantungan, dan semua sudah siap untuk menyalakan api, orang martir (mati syahid) ini sekali lagi dihimbau untuk menyelamatkan dirinya dengan meninggalkan kesalahannya. "Kesalahan apa," kata Huss, "yang saya harus tinggalkan? Saya tahu saya tidak bersalah. Saya memohon Allah untuk menyaksikan bahwa semua yang saya telah tuliskan dan khotbahkan adalah demi penyelamatan jiwa jiwa dari dosa dan kebinasaan. Dan oleh sebab itu, dengan sangat senang saya akan pastikan dengan darahku, kebenaran yang telah kutuliskan dan kukhotbahkan." Wylie, b. 3, ch. 7. Ketika api menyala disekelilingnya, ia mulai menyanyi, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku," dan demikianlah seterusnya ia menyanyi sampai suaranya terdiam untuk selamanya.
Musuh musuhnya sendiripun merasa terpukul melihat keperkasaannya. Seorang pengikut paus yang bersemangat, menerangkan kematian Huss dan Jerome, yang mati segera sesudah itu, demikian: "Keduanya mereka menetapkan hati pada waktu saat saat terakhir datang menjelang. Mereka telah bersedia menghadapi api itu seperti mereka menghadapi pesta pernikahan. Mereka tidak mengeluh kesakitan. Ketika nyala api menjulang, mereka menyanyikan nyanyian puji pujian. Dan kehebatan api tidak dapat menghentikan nyanyian mereka." Wylie, b.3, ch. 7.
Setelah tubuh Huss seluruhnya hangus terbakar, maka abunya bersama tanah tempat abu itu, dikumpulkan dan dibuangkan ke Sungai Rhine, yang kemudian dihanyutkan arus ke laut. Para penganiaya membayangkan bahwa mereka telah berhasil membasmi kebenaran yang telah dikhotbahkan Huss. Tidak terbayang bagi mereka bahwa abu jenazah yang dihanyutkan arus ke laut akan menjadi benih yang tersebar keseluruh negeri di dunia ini. Dan bahwa negeri yang belum diketahui itu akan memberikan buah buah yang limpah sebagai saksi kebenaran.
Kata kata yang diucapkan di gedung konsili di Constance telah membahana, dan gaungnya akan terdengar sampai ke masa masa yang akan datang. Huss tidak ada lagi, tetapi kebenaran yang diperjuangkannya dengan kematiannya tidak akan pernah binasa. Teladan iman dan ketetapan hatinya akan mendorong banyak orang untuk berdiri teguh demi kebenaran, dalam menghadapai siksaan dan kematian. Kematiannya telah membeberkan kepada seluruh dunia tentang kekejaman pengkhianatan Roma. Musuh musuh kebenaran, meskipun mereka tidak menyadarinya, telah memajukan kebenaran itu, yang dengan sia sia mereka berusaha memusnahkannya.
Satu lagi tiang gantungan pembakaran akan didirikan di kota Constance. Darah saksi yang lain harus menyaksikan kebenaran itu. Jerome, yang mengucapkan selamat jalan kepada Huss waktu ia pergi untuk menghadiri konsili, telah mendorong semangat dan menguatkan pendirian Huss. Jerome menyatakan akan datang menolongnya jika Huss harus menghadapi bahaya. Setelah mendengar penahanan Pembaharu itu, murid yang setia ini segera menyiapkan diri memenuhi janjinya. Tanpa surat pas jalan ia berangkat ke Constance dengan seorang teman. Setelah tiba di Constance ia merasa pasti bahwa ia hanya membuka dirinya kepada bahaya tanpa adanya kemungkinan bisa berbuat sesuatu untuk melepaskan Huss. Ia melarikan diri dari kota itu, tetapi tertangkap dalam perjalanan pulang. Ia dibawa kembali ke Constance dengan dirantai dan dengan pengawalan sepasukan tentera. Pada penampilan pertama di konsili, dalam usahanya menjawab tuduhan tuduhan yang dilontarkan kepadanya, telah disambut dengan teriakan, "Bakar dia! bakar dia!" Bonnechose, Vol. I, p. 234. Ia dijebloskankan kedalam penjara bawah tanah, dirantai dalam posisi yang menyebabkannya sangat menderita, dan diberi makan roti dan air saja. Setelah beberapa bulan kekejaman yang dilakukan kepada Jerome, ia menderita penyakit yang mengancam nyawanya. Musuh musuhnya takut kalau kalau ia melarikan diri, memperlakukannya tidak sekejam sebelumnya, meskipun ia tetap meringkuk dalam penjara selama setahun.
Kematian Huss tidak berakibat seperti yang diharapkan oleh pengikut pengikut kepausan. Pelanggaran terhadap surat pas jalan telah membangkitkan badai kemarahan. Dan sebagai cara yang lebih aman, konsili memutuskan untuk memaksa Jerome, kalau mungkin, untuk menarik mundur pernyataannya, sebagai ganti membakarnya. Ia dibawa menghadap mahkamah, dan memberikan pilihan untuk menarik kembali pernyataannya, atau mati di tiang gantungan pembakaran. Kematian pada permulaan penahanannya adalah merupakan belas kasihan jika dibandingkan dengan penderitaan hebat yang telah dialaminya. Tetapi sekarang, setelah dilemahkan oleh penyakit, oleh kekakuan penjaranya, dan siksaan kecemasan dan ketegangan, dipisahkan dari teman temannya, dan terpukul oleh kematian Huss, maka keteguhan hati Jeromepun luluhlah sudah. Dan ia setuju untuk menyerah kepada konsili. Ia berjanji kepada dirinya untuk mematuhi imam Katolik, dan menerima tindakan konsili dalam melarang ajaran ajaran Wycliffe dan Huss, namun kecuali "kecuali kebenaran kudus," yang mereka telah ajarkan. Lihat Bonnechose, Vol. II, p. 141.
Dengan cara ini Jerome berusaha untuk mendiamkan suara hati nuraninya dan melepaskan diri dari kebinasannya. Akan tetapi didalam keterasingannya di penjara bawah tanah ia melihat lebih jelas apa yang telah dilakukannya. Ia memikirkan keberanian dan kesetiaan Huss, bertolak belakang dengan penyangkalannya akan kebenaran itu. Ia memikirkan Tuhannya yang kepada Nya ia telah berjanji untuk melayani, dan demi kepentingannya sendiri bersedia menanggung kematian di kayu salib. Sebelum menarik kembali pernyataannya ia memperoleh penghiburan atas semua penderitaannya, dan kepastian memperoleh kasih Allah. Tetapi sekarang, penyesalan yang dalam dan keragu raguan menyiksa jiwanya. Ia tahu bahwa masih banyak penarikan pernyataan yang harus dilakukannya sebelum ia berdamai dengan Roma. Jalan yang sekarang ia lalui bisa berakhir hanya dengan kemurtadan penuh. Akhirnya ia membuat keputusan: ia tidak akan menyangkal Tuhannya hanya untuk kelepasan sementara dari penderitaan.
Kemudian ia dibawa kembali menghadap konsili.Penyerahannya belum memuaskan para hakimnya. Kehausan mereka akan darah yang dirangsang oleh kematian Huss, mendesak mereka untuk mendapatkan korban baru. Hanya dengan penyerahan tanpa syarat kebenaran itu Jerome dapat mempertahankan hidupnya. Tetapi ia telah menetapkan untuk berpegang pada imannya, dan mengikuti jejak saudara martirnya Huss ke pembakaran.
Ia membatalkan penarikan pernyataannya yang sebelumnya. Dan sebagai seorang yang sedang sekarat, dengan sungguh sungguh ia memohon kesempatan untuk memberikan pembelaannya. Takut akan pengaruh kata katanya, para pejabat tinggi gereja bertahan agar ia hanya menguatkan atau menolak kebenaran tuduhan yang dituduhkan kepadanya. Jerome memprotes perlakuan yang begitu kejam dan tidak adil. "Kamu telah menutup saya di penjara yang mengerikan selama tiga ratus empat puluh hari," katanya, "di tengah tengah kekotoran, di dalam ruangan yang pengap dan bau busuk, dan dimana sangat kekurangan segala sesuatu. Dan sekarang kamu membawa saya menghadap dan mendengarkan musuh musuhku , tetapi kamu tidak mau mendengarkan aku . . . . Jikalau kamu benar benar orang bijaksana dan terang dunia ini, hati hatilah jangan berdosa kepada keadilan. Bagiku, aku hanya seorang manusia yang lemah. Hidupku tidak begitu penting. Dan bilamana saya menghimbau kamu agar jangan mengucapkan satupun kalimat yang tidak adil, saya bukan berkata kata untuk diriku, tetapi untuk kamu." Bonnechose, Vol. II, pp. 146, 147.
Akhirnya permohonannya disetujui. Dihadapan hakimnya Jerome berlutut dan berdoa agar Roh ilahi dapat kiranya menguasai pikirannya dan kata katanya, agar ia dapat berbicara dengan tidak bertentangan dengan kebenaran atau yang tidak menghormati Tuhannya. Baginya pada hari itu telah digenapi janji Allah kepada murid murid yang pertama itu: "Karena Aku kamu akan digiring kemuka penguasa penguasa dan raja raja . . . . Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang kamu harus katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang berkata kata di dalam kamu " (Matius 10:18 20.).
Kata kata Jerome menimbulkan keheranan dan kekaguman juga kepada musuh musuhnya. Karena sepanjang tahun ia telah dikurung di dalam penjara bawah tanah, ia tidak bisa membaca bahkan melihat. Ia menanggung penderitaan fisik yang berat dan kecemasan mental. Namun argumen argumennya disampaikan dengan begitu jelas dan dengan kuasa seolah olah ia tidak pernah mengalami gangguan kesempatan belajar. Ia menunjukkan kepada para pendengarnya barisan panjang orang orang kudus yang telah dihukum oleh hakim hakim yang tidak adil. Hampir di setiap generasi terdapat orang orang yang, sementara berusaha mengangkat derajat orang orang pada zamannya, telah dipersalahkan dan dibuang, tetapi yang dikemudian hari ternyata berhak mendapat kehormatan. Kristus sendiri telah dihukum sebagai penjahat oleh pengadilan yang tidak adil.
Pada waktu Jerome menarik kembali pernyataannya, ia setuju dengan keputusan pengadilan yang menghukum mati Huss. Tetapi sekarang ia menyatakan pertobatannya, dan bersaksi mengenai ketidak bersalahan dan kesalehan orang yang mati syahid itu. "Saya mengenal dia sejak masa kanak kanaknya," katanya. "Ia adalah orang yang paling baik, jujur dan saleh. Ia telah dihukum walaupun ia tidak bersalah . . . . Saya juga, saya sudah sedia untuk mati. Saya tidak akan mundur menghadapi siksaan yang telah disediakan bagiku oleh musuh musuhku dan para saksi palsu. Pada suatu hari kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan tipuan mereka di hadirat Allah yang maha agung, yang tak seorangpun bisa menipu." Bonnechose, Vol. II, p. 151.
Dalam penyesalan dirinya sendiri karena menyangkal kebenaran, Jerome selanjutnya berkata, "Dari semua dosa yang aku lakukan sejak masa mudaku, tidak ada yang lebih berat membebani pikiranku dan yang menyebabkanku begitu sangat menyesal, daripada apa yang kulakukan di tempat celaka ini, pada waktu aku menyetujui keputusan yang tidak adil yang dijatuhkan kepada Wycliffe, dan kepada syuhada saleh John Huss, tuanku dan sahabatku. Ya! Aku mengakuinya dari dalam hatiku, dan menyatakan dengan kengerian bahwa aku merasa malu dan takut pada waktu saya mempersalahkan ajaran ajaran mereka oleh karena takut mati. Oleh sebab itu, aku memohon . . . Allah Mahakuasa sudi mengampuni aku dari dosa dosaku, terutama yang satu ini, yang paling mengerikan dari semua." Sambil menunjuk kepada hakimnya, ia berkata dengan tegas, "Kamu telah mempersalahkan Wycliffe dan John Huss, bukan karena menggoncangkan doktrin gereja, tetapi hanya oleh karena mengutuk kejahatan yang dilakukan para pendeta kesombongan dan keangkuhan mereka, dan semua kebusukan para pejabat tinggi gereja dan para imam. Hal hal yang mereka sudah kuatkan, yang tidak dapat dibantah lagi, aku juga berpikir dan mengatakan demikian, seperti mereka."
Kata katanya disela. Para pejabat tinggi gereja gemetar dalam kemarahannya, dan berteriak, "Bukti bukti apa lagi yang diperlukan? Kita telah melihat dengan mata kepala kita sendiri seorang bida'ah yang keras kepala!"
Tanpa terpengaruh oleh keributan itu, Jerome menyerukan, "Apa? Apakah kamu menyangka aku takut mati? Kamu telah mengurung aku dipenjara bawah tanah yang mengerikan setahun penuh, yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri. Kamu telah memperlakukan saya lebih buruk dari orang orang Turki, Yahudi atau orang kafir. Dan dagingku sebenarnya telah membusuk dan terlepas dari tulang tulangku selagi aku masih hidup. Namun begitu, saya tidak mengeluh, karena ratap tangis akan menyakitkan hati dan jiwa. Tetapi aku tak dapat mengutarakan keherananku atas kebiadaban besar seperti itu terhadap seorang Kristen." Bonnechose, Vo. II, pp. 151 153.
Sekali lagi topan amarah menolak, dan Jerome dilarikan kepenjara. Namun ada beberapa orang di dalam mahkamah yang sangat terkesan dengan kata kata Jerome, dan yang ingin untuk meyelamatkan nyawanya. Ia dikunjungi oleh para pejabat tinggi gereja dan mendorongnya untuk menyerahkan dirinya kepada konsili. Hari depan yang paling gemilang telah ditawarkan kepadanya sebagai imbalannya jika ia meninggalkan perlawanannya kepada Roma. Tetapi seperti Tuhannya pada waktu ditawarkan kemuliaan dunia, Jerome tetap teguh menolak.
"Butikanlah kepadaku dari Alkitab bahwa aku ini salah," katanya, "dan aku akan meninggalkannya untuk selama lamanya."
"Alkitab!" seru seorang yang mencobainya, "apakah semuanya harus diadili oleh Alkitab? Siapa yang bisa mengertinya sampai gereja menafsirkannya?
"Apakah tradisi manusia lebih layak untuk dipercaya daripada Injil Juru Selamat kita?" jawab Jerome. " Paulus tidak menasihatkan orang orang yang dikirimi surat untuk mendengarkan tradisi manusia, tetapi katanya, 'Selidiklah Alkitab.'"
"Bida'ah!" teriak seseorang, "Saya menyesal telah membujuk engkau begitu lama. Saya melihat bahwa engkau telah didorong oleh Setan." Wylie, b. 3, ch. 10.
Tidak lama kemudian keputusan hukuman mati dijatuhkan kepadanya. Ia dituntun ke tempat yang sama dimana Huss menyerahkan nyawanya. Sepanjang jalan ia menyanyi, wajahnya bercahaya penuh sukacita dan kedamaian. Pandangannya tertuju kepada Kristus, dan baginya kematian telah kehilangan kengeriannya. Pada waktu petugas, yang hampir menyalakan onggokan kayu api, berjalan dibelakangnya, syuhada itu berkata, "Majulah dengan berani, taruhlah api itu diwajahku. Kalau saya takut saya tidak akan berada di sini."
Kata katanya yang terakhir yang diucapkan sementara nyala api membesar disekelilingnya adalah sebuah doa, "Tuhan Yang Mahakuasa," katanya, "kasihanilah aku, dan ampunilah dosa dosaku, karena Engkau tahu, aku selalu mencintai kebenaran Mu." Bonnechose, Vol II, p. 168. Suaranya lenyap, tetapi bibirnya tetap komat kamit berdoa. Setelah api membakar seluruh tubuhnya, abu syuhada itu bersama tanah tempatnya, dikumpulkan dan, seperti abu jenazah Huss, dibuangkan ke Sungai Rhine.
Demikianlah binasa para pembawa terang Allah yang setia. Tetapi terang kebenaran yang disiarkan mereka, terang teladan keperkasaan mereka tidak bisa dipadamkan. Bagaikan manusia yang paling kuat berusaha menahan peredaran matahari agar matahari fajar tidak menyingsing, tetapi bagaimanapun juga, fajar tetap terbit bagi dunia. Pelaksanaan hukuman mati Huss telah menyulut api kemarahan dan kengerian di Bohemia. Hal itu dirasakan segenap bangsa itu, bahwa ia telah menjadi mangsa kebencian para imam dan pengkhianatan kaisar. Ia dinyatakan sebagai seorang guru kebenaran yang setia, dan konsili yang memutuskan hukuman mati itu dituduh bersalah sebagai pembunuh. Ajaran ajaran Huss sekarang menarik perhatian orang lebih banyak daripada sebelumnya. Atas perintah kepausan tulisan tulisan Wycliffe telah dibakar. Tetapi yang lolos dari pemusnahan sekarang dibawa keluar dari tempat persembunyiannya dan dipelajari bersama Alkitab, atau bagian bagiannya yang bisa didapat. Dan banyaklah yang dituntun menerima iman yang diperbaharui itu.
Para pembunuh Huss tidak tinggal diam dan menyaksikan kemenangan kemenangan Huss. Paus dan kaisar bersatu untuk menumpas gerakan itu, dan tentera Sigismund menyerang Bohemia.
Tetapi bangkit seorang penyelamat. Ziska, yang segera sesudah perang mulai telah menjadi buta sama sekali, namun adalah seorang jenderal yang paling mahir pada zamannya, menjadi pemimpin orang Bohemia. Percaya pada pertolongan Allah dan kebenaran perjuangan mereka, sehingga orang orang dapat menahan tentera musuh yang kuat yang menyerang mereka. Berulang ulang kaisar mengirim tentera baru untuk menyerang Bohemia hanya untuk dipukul mundur secara memalukan. Pengikut pengikut Huss sekarang tidak takut mati, dan tak ada yang tahan melawan mereka. Beberapa tahun setelah perang meletus, Ziska, sipemberani itu wafat. Tetapi tempatnya digantikan oleh Procopius, yang juga adalah seorang jenderal pemberani dan trampil, dan dalam berbagai hal, seorang pemimpin yang lebih berkemampuan.
Musuh musuh orang Bohemia, mengetahui bahwa pejuang yang buta itu telah meninggal, merasa sudah saatnya untuk menebus kekalahan mereka selama ini. Paus mengumumkan perang suci melawan pengikut pengikut Huss. Dan tentera yang besar jumlahnya segera dikirimkan menyerang Bohemia, tetapi hanya untuk menderita kekalahan yang mengerikan. Perang suci lain diumumkan. Disemua negara kepausan di Eropa, tentera, uang dan perlengkapan perang dikumpulkan. Orang banyak berduyun duyun menggabungkan diri kebawah panji panji kepausan. Mereka merasa pasti bahwa akhirnya para bida'ah pengikut Huss akan dapat ditumpas. Dengan keyakinan akan menang, pasukan besar itupun memasuki Bohemia. Orang orang Bohemia bertempur mengusir mereka. Kedua pasukan saling mendekat, sehingga hanya dipisahkan oleh sebuah sungai saja. "Tentera kepausan jauh lebih unggul, tetapi sebagai gantinya mereka langsung menyeberangi sungai utnuk memerangi pengikut pengikut Huss, mereka berdiri memandangi dengan diam prajurit prajurit Huss. Sebenarnya mereka jauh jauh datang hanya untuk memerangi pengikut pengikut Huss ini." Wylie, b. 3, ch. 17. Tiba tiba ketakutan yang misterius melanda pasukan kepausan. Tanpa membuat sesuatu untuk melawan, pasukan yang kuat ini tercerai berai dihalau oleh kekuatan yang tidak kelihatan. Banyak yang disembelih oleh pasukan pengikut pengikut Huss, yang mengejar musuh yang lari itu. Dan banyaklah barang barang rampasan yang jatuh ke tangan pasukan yang menang, sehingga sebagai gantinya, perang itu membuat kemiskinan, justru membuat orang orang Bohemia lebih kaya.
Beberapa tahun kemudian, perang suci yang lain direncanakan dibawah pimpinan paus yang baru. Seperti yang sebelumnya, tentera dan peralatan diambil dari negara negara kepausan di Eropa. Banyaklah janji diberikan untuk membujuk orang orang untuk bergabung kepada pekerjaan yang berbahaya ini. Pengampunan penuh atas kejahatan yang paling keji telah dijanjikan bagi setiap orang tentera kepausan. Semua yang tewas dalam peperangan itu dijanjikan upah besar di Surga dan mereka yang selamat akan memperoleh penghormatan dan kekayaan di medan pertempuran. Sekali lagi pasukan besar telah terkumpul, dan melintasi perbatasan memasuki Bohemia. Pasukan pengikut Huss menggunakan taktik mundur dihadapan pasukan penyerang, sehingga musuh semakin jauh masuk ke negeri itu. Hal ini membuat penyerang mengira bahwa mereka telah memenangkan peperangan. Akhirnya tentera Procopius bertahan dan berbalik menghadapi musuh, maju menyerang mereka. Tentera musuh, menyadari kesalahannya, menunggu serangan diperkemahannya. Sementara suara pasukan yang mendekat terdengar, bahkan sebelum pasukan pengikut Huss terlihat, kembali kepanikan melanda pasukan kepausan. Para pangeran, para jenderal dan tentera biasa membuangkan senjata mereka, lalu lari kesegala pejuru. Sia sia utusan kepausan, yang memimpin penyerangan itu, berusaha untuk mengumpulkan pasukannya yang sudah ketakutan dan kucar kacir tak teratur lagi itu. Walaupun ia berusaha keras, ia sendiripun juga ikut hanyut dalam arus pelarian. Kekalahan itu sempurna. Dan sekali lagi barang barang rampasan yang banyak jatuh ketangan pemenang.
Demikianlah untuk kedua kalinya pasukan yang jumlahnya besar, yang dikirim oleh bangsa bangsa kuat di Eropa, pasukan yang berani yang siap tempur, dan yang dilatih dan diperlengkapi untuk berperang, lari tanpa perlawanan dari hadapan para pembela bangsa yang kecil dan lemah. Disinilah manifestasi kuasa ilahi. Para penyerang telah dipukul mundur dengan teror gaib. Ia yang mengalahkan tentera Firaun di Laut Merah, yang membuat lari tentera Midian dari hadapan Gideon dan pasukannya yang berjumlah tiga ratus orang itu, yang pada suatu malam melumpuhkan pasukan Assur yang angkuh, kembali merentangkan tangan Nya melumpuhkan kekuatan penindas. "Disanalah mereka di timpa kejutan yang besar, padahal tidak ada yang mengejutkan; sebab Allah menghamburkan tulang tulang para pengepungmu; mereka akan dipermalukan, sebab Allah telah menolak mereka" (Mazmur 53:5).
Setelah putus asa tidak berhasil menguasai Bohemia dengan kekuatan senjata, para pemimpin kepausan akhirnya manggunakan saluran saluran diplomasi. Mereka mengadakan kompromi. Sementara mereka mengatakan memberikan kemerdekaan hati nurani kepada Bohemia, tetapi sebenarnya mereka dikhianati untuk masuk kedalam kekuasaan Romawi. Orang orang Bohemia mengajukan empat tuntutan sebagai syarat perdamaiannya dengan Roma: Kebebasan mengkhotbahkan Alkitab; hak seluruh gereja atas roti dan anggur dalam perjamuan kudus dan penggunaan bahasa sendiri dalam perbaktian ilahi; penarikan imam imam dari kuasa dan jabatan pemerintahan; dan dalam hal perkara kejahatan, jurisdiksi pengadilan sipil sama terhadap para pendeta dan orang awam. Penguasa kepausan akhirnya "menyetujui menerima keempat tuntutan pengikut pengikut Huss, akan tetapi hak untuk menjelaskannya, yaitu menentukan makna yang sebenarnya, haruslah menjadi hak konsili dengan perkataan lain, hak paus dan hak kaisar." Atas dasar ini dibuatlah suatu perjanjian. Dengan menyembunyikan tipu muslihatnya dan kecurangannya Roma memperoleh apa yang tidak bisa diperolehnya dengan peperangan, oleh karena, dengan memberikan interpretasinya atas tuntutan pengikut Huss itu, seperti juga atas Alkitab, ia dapat memutar balikkan artinya sesuai dengan maksud dan kemauannya.
Segolongan besar orang di Bohemia, yang melihat bahwa kemerdekaan mereka telah dikhianati, tidak setuju dengan perjanjian itu. Timbullah perselisihan dan perpecahan yang menjurus kepada bentrokan dan pertumpahan darah diantara mereka sendiri. Dalam perselisihan ini bangsawan Procopius jatuh, dan lenyaplah kebebasan Bohemia.
Sigismund, yang mengkhianati Huss dan Jerome, sekarang menjadi raja Bohemia. Dan tanpa mengingat sumpahnya untuk mendukung hak hak orang Bohemia, ia mulai mendirikan kepausan. Tetapi ketakutannya kepada Roma tidak memberi keuntungan banyak baginya. Selama dua puluh tahun kehidupannya telah dipenuhi dengan kerja keras dan bahaya. Balatenteranya dikalahkan dan hartanya habis terkuras oleh perjuangan yang lama dan yang tak membawa hasil. Dan sekarang, setelah ia memerintah selama setahun iapun mangkat, meninggalkan kerajaannya ditepi jurang perang saudara, dan mewariskan kepada generasi yang akan datang suatu nama kekejian.
Kerusuhan, perselisihan, dan pertumpahan darah berkepanjangan. Sekali lagi pasukan dari luar menyerang Bohemia, dan perselisihan di dalam negeri berlanjut mengalihkan perhatian bangsa itu. Mereka yang tetap setia kepada Injil dihadapkan kepada penganiayaan berdarah.
Sementara saudara saudara mereka yang terdahulu, mengadakan perjanjian dengan Roma, dan menelan keksalahannya, mereka yang memberi perhatian kepada iman yang mula mula itu membentuk suatu gereja yang berbeda sifatnya, yang diberi nama, "United Brethren" (Perserikatan Saudara saudara). Tindakan ini mengundang kutukan dari semua golongan kepada mereka. Namun, mereka tidak dapat digoyahkan. Meskipun terpaksa mencari perlindungan di hutan hutan dan di gua gua, mereka masih tetap berkumpul untuk membaca firman Allah dan bersatu dan berbakti bersama kepada Tuhan.
Melalui pesuruh pesuruh yang dikirim secara rahasia keberbagai negeri, mereka mengetahui bahwa disana sini terdapat "saksi saksi kebenaran yang terpisah pisah, sedikit di kota ini dan sedikit disana yang menjadi sasaran penganiayaan seperti mereka. Dan ditengah tengah pegunungan Alpen ada gereja tua, yang beralaskan Alkitab, dan yang memprotes kebejatan moral Roma." Wylie, b. 3, ch. 19. Pesuruh pesuruh intel ini telah diterima dengan sukacita yang besar, dan surat menyuratpun diadakan dengan orang Kristen Waldenses.
Sambil tetap teguh berpegang kepada Injil, orang orang Bohemia menunggu sepanjang malam penganiayaa mereka. Di malam yang paling gelap mereka masih mengalihkan matanya ke ufuk timur seperti orang orang yang sedang menantikan terbitnya matahari pagi. "Mereka mengalami nasib buruk pada hari hari yang jahat, tetapi . . . mereka mengingat kata kata yang diucapkan oleh Huss, dan yang diulangi oleh Jerome, bahwa seabad harus berlalu sebelum fajar menyingsing. Kata kata ini ditujukan kepada bangsa bangsa didalam perhambaan: 'Saya akan mati, dan Allah pasti akan melawat kamu, dan membawa kamu keluar.' " Idem, b. 3, ch. 19. "Selama masa penutupan abad ke lima belas terlihat perkembangan yang lambat tetapi pasti gereja Brethren. Walaupun tidak jauh dari gangguan, namun mereka masih mengalami kedamaian yang sebanding. Pada permulaan abad ke enambelas, gereja mereka telah berjumlah dua ratus gereja di Bohemia dan Moravia." Gillett, "Life and Times of John Huss," (3d ed.), Vol. II, p. 570. "Betapa bersukacitanya perasaan umat yang sisa, yang terlepas dari keganasan api dan pedang, melihat terbitnya fajar yang telah diramalkan oleh Huss." Wylie, b. 3, ch.19.
Langganan:
Postingan (Atom)